Ilustrasi rupiah. Foto: Net/Getty Images/iStockphoto/Squirescape/via detik.com
JAKARTA, KABARLINK.com - Mata uang Garuda kini tengah megap-megap menghadapi hantaman badai Dolar Amerika Serikat. Terjerembap di kisaran angka Rp17.500-an, posisi nilai tukar ini sudah melenceng sangat jauh dari jangkar ekspektasi yang dipatok pemerintah dalam APBN tahun ini. Di tengah kekhawatiran akan merambatnya efek domino pelemahan ini ke hajat hidup orang banyak, para pakar ekonomi membeberkan sejumlah "resep" penawar agar Rupiah tidak makin terpuruk.
Situasi darurat ini jelas menuntut intervensi yang tidak biasa. Menurut pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, pemerintah memiliki pekerjaan rumah yang berlapis untuk bisa memompa kembali otot Rupiah. Langkah pertamanya adalah mengunci rapat kredibilitas fiskal.
Pasar harus diyakinkan bahwa postur APBN dan defisit negara tetap dalam kendali yang aman. Kepercayaan investor adalah kunci; begitu mereka merasa nyaman, aliran modal asing akan kembali mengucur dan menyeimbangkan neraca nilai tukar. "Dunia pasar keuangan itu sangat sensitif terhadap sentimen. Terkadang, satu ucapan pejabat yang keliru saja sudah cukup untuk membuat Rupiah 'masuk angin' lebih parah dari perkiraan," ungkap Ronny.
Lebih lanjut, Ronny menyoroti pentingnya amunisi dari dalam negeri. Kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) harus benar-benar dioptimalkan agar pasokan Dolar AS melimpah di pasar domestik. Sementara untuk tameng jangka panjang, percepatan hilirisasi dan produksi barang pengganti impor wajib digenjot demi melepaskan diri dari ketergantungan produk luar negeri.
Lantas, mungkinkah Rupiah bangkit dan kembali ke angka Rp16.500 seperti asumsi awal APBN?
Di atas kertas, Ronny menyebut peluang "pulang kampung" ke level tersebut masih terbuka. Syaratnya, arah angin global harus mendukung, terutama meredanya tensi geopolitik dan melunaknya kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed). Jika tekanan eksternal mereda, modal asing akan kembali melirik negara-negara berkembang seperti Indonesia. Namun, ia mengingatkan agar semua pihak tetap membumi dan menyadari bahwa gelombang volatilitas dunia saat ini jauh lebih ganas ketimbang tahun-tahun sebelumnya.
Senada dengan hal tersebut, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menekankan peran krusial Bank Indonesia (BI) di garis depan. BI harus terus siaga memantau pasar valuta asing untuk mengerem laju pelemahan agar tidak memicu kepanikan massal.
Namun, Rendy menggarisbawahi satu elemen tak kasatmata yang jauh lebih ampuh dari sekadar intervensi pasar: paduan suara yang harmonis dari para petinggi negara. Anggota Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) diwajibkan memiliki narasi dan arah kebijakan yang seragam.
"Investor itu mengamati apakah pemerintah, BI, dan otoritas terkait berbicara dalam satu bahasa. Jika ada komunikasi yang tumpang tindih atau aturan yang mencla-mencle, tekanan terhadap Rupiah biasanya akan langsung membesar," tegas Rendy.
Penyakit kronis ekonomi Indonesia, menurut Rendy, adalah kecanduan kita pada impor—mulai dari bahan baku industri, energi, hingga ketergantungan pada uang asing. Tak heran, setiap kali dunia bergejolak, Rupiah langsung demam tinggi.
Oleh karena itu, ia menyarankan agar pemerintah benar-benar serius memperkuat fondasi industri manufaktur lokal, terutama sektor farmasi, komponen industri, dan bahan kimia dasar yang selama ini menyedot devisa untuk impor. Selain itu, kepastian iklim investasi tak boleh lagi jadi sekadar jargon. Investor sejatinya siap mematuhi regulasi seketat apa pun, asalkan aturan mainnya jelas, konsisten, dan tidak diubah secara mendadak di tengah jalan. (bm)
Sumber: detik.com
Demikian informasi tuntas tentang dihajar dolar hingga tembus rp17500 masih ada harapankah rupiah pulang ke target semula dalam ekbis & investasi yang saya sampaikan Semoga artikel ini menjadi inspirasi bagi Anda tingkatkan keterampilan komunikasi dan perhatikan kesehatan sosial. Jangan ragu untuk membagikan ini ke sahabat-sahabatmu. cek artikel lainnya di bawah ini. Terima kasih.
