Internasional

Kesepakatan Minyak Hormuz hingga Peringatan Keras Xi Jinping untuk Trump

Son Sulistiono

Jurnalis

Son Sulistiono

Kesepakatan Minyak Hormuz hingga Peringatan Keras Xi Jinping untuk Trump

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menggelar peremuan pada Kamis (14/5/2026) pagi, di  Aula Besar Rakyat, Beijing. Foto: net/Getty Images/Alex Wong via detik.com



JAKARTA, KABARLINK.com - Setelah satu dekade berlalu tanpa jejak kunjungan Presiden Amerika Serikat di tanah Tiongkok, sebuah pertemuan bersejarah akhirnya terwujud di bawah kemegahan karpet merah Aula Besar Rakyat, Beijing. Di balik jabat tangan hangat dan seremoni penyambutan yang megah pada Kamis (14/5/2026) pagi, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping rupanya terlibat dalam tarik-ulur diplomasi tingkat tinggi—mulai dari upaya mengamankan urat nadi energi global hingga munculnya ancaman terbuka terkait masa depan Taiwan.

Pertemuan dua pemimpin negara adidaya yang diklaim pihak Gedung Putih berjalan "sangat baik" ini menghasilkan satu konsensus krusial yang melegakan pasar dunia: Selat Hormuz tidak boleh tertutup.

Jalur perairan di Timur Tengah tersebut belakangan ini layaknya zona mati imbas berkobarnya konflik bersenjata antara poros AS-Israel melawan Iran sejak akhir Februari lalu. Manuver saling blokade perairan sempat mencekik jalur distribusi yang biasanya mengangkut 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Bagi Tiongkok, menjaga perairan Hormuz tetap terbuka adalah urusan nyawa ekonomi. Mengutip data firma analisis maritim Kpler, lebih dari separuh kebutuhan minyak mentah yang diimpor Beijing bergantung pada kapal-kapal tanker yang melintasi Teluk Persia.

Namun, ada bumbu ironi yang menarik di balik lobi energi ini. Gedung Putih dengan percaya diri melempar klaim bahwa Presiden Xi mulai melirik untuk memborong "emas hitam" dari Amerika demi mengurangi ketergantungan pada Timur Tengah. Anehnya, narasi manis dari Washington ini sama sekali tak berbalas. Pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China justru bungkam soal rencana transaksi minyak tersebut.

Alih-alih membahas soal jual-beli energi, pihak Beijing mengarahkan sorotan pada pembahasan krisis makro dunia. Mereka menegaskan bahwa diskusi di atas meja tak sekadar soal Timur Tengah, melainkan merambah ke upaya penyelesaian krisis Ukraina hingga ketegangan menahun di Semenanjung Korea.

Harmoni pertemuan bilateral yang tampak cair di awal itu rupanya menyimpan ketegangan yang sengaja disimpan di akhir. Mengutip laporan jaringan televisi pemerintah CCTV, dinamika diplomasi seketika menegang ketika Presiden Xi Jinping meletakkan isu Taiwan di atas meja perundingan.

Tanpa basa-basi, Xi memberikan peringatan langsung kepada Trump. Ia menegaskan bahwa urusan Taiwan bukanlah sekadar masalah regional biasa, melainkan garis merah paling krusial dalam relasi Washington dan Beijing. Pemimpin Tiongkok tersebut bahkan tak segan melempar sinyal bahaya, memperingatkan bahwa langkah yang keliru dari Amerika Serikat dalam menangani status pulau tersebut bisa memicu ledakan konflik yang akan menyeret dua poros dunia ini ke dalam situasi yang sangat fatal. (bm)


Sumber: detik.com

Itulah pembahasan lengkap seputar kesepakatan minyak hormuz hingga peringatan keras xi jinping untuk trump yang saya tuangkan dalam internasional Jangan lupa untuk terus belajar dan mengembangkan diri kembangkan ide positif dan jaga keseimbangan hidup. Silakan bagikan kepada teman-temanmu. terima kasih.

Bagikan: