Prof Dr apt Agung Endro Nugroho (pria berbaju putih), Ketua Program Equity, Farmasi UGM, saat pendampingan Srikandi Desa Hargotirto, Kulon Progo, DIY. Foto: dok.UGM
KULON PROGO, KABARLINK.com - Di bawah rimbun pepohonan Desa Hargotirto, Kulon Progo, aroma jahe yang tajam menyeruak di antara obrolan hangat para ibu. Mereka bukan sekadar mengolah bumbu dapur untuk makan malam keluarga. Para perempuan yang dijuluki 'Srikandi' ini tengah merajut kemandirian ekonomi melalui sentuhan sains farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM). Lewat program EQUITY Community Development 2026, wajah tradisional empon-empon kini bertransformasi menjadi produk kesehatan berstandar ilmiah.
Perjalanan ini bukan cerita kemarin sore. Sejak 2010, Desa Hargotirto telah mematri diri sebagai desa percontohan pemberdayaan masyarakat. Berawal dari inisiatif Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) yang bersinergi dengan UGM, napas pemberdayaan itu terus terjaga hingga hari ini. Ada 11 Kelompok Wanita Tani (KWT) yang menjadi tulang punggung penggeraknya. Semangat mereka bukan isapan jempol; salah satu kelompok bahkan sukses menyabet gelar juara pertama di tingkat kabupaten.
Kulon Progo memang tanah yang diberkati untuk empon-empon. Data Badan Pusat Statistik mengonfirmasi wilayah ini sebagai lumbung utama di Yogyakarta. Jahe, kencur, hingga temulawak tumbuh subur di sini. Namun, selama berpuluh-puluh tahun, mutu jahe hanya dinilai dari seberapa besar rimpangnya atau seberapa mulus kulitnya. Padahal, kekuatan sejati jahe ada pada molekul yang tak kasatmata.
Di sinilah tim Farmasi UGM masuk membawa terobosan. Prof Dr apt Agung Endro Nugroho, Ketua Program Equity, menjelaskan bahwa fokus mereka kini adalah penetapan mutu berbasis kadar 6-shogaol. Senyawa bioaktif ini merupakan kunci khasiat antiinflamasi, antioksidan, hingga antidiabetik dalam jahe. Tanpa parameter ilmiah ini, jahe Hargotirto sulit untuk naik kelas ke industri farmasi yang lebih luas.
"Istilah ‘Srikandi Desa Hargotirto’ mencerminkan peran aktif perempuan dalam kegiatan pemberdayaan di wilayah tersebut," ujar Prof. Agung. Baginya, menyatukan tangan dingin para ibu dengan ketelitian laboratorium adalah jalan ninja menuju kemandirian ekonomi. Riset aplikatif ini melibatkan kolaborator internasional, membuktikan bahwa potensi lokal dari sudut Kulon Progo mampu bicara banyak di kancah global.
Kini, para Srikandi tak lagi hanya menanam dan memanen. Mereka mulai memahami bahasa sains di balik rimpang yang mereka pegang setiap hari. Pendekatan berbasis sains ini diharapkan tidak hanya meningkatkan harga jual produk di pasar, tetapi juga memperkuat harga diri para perempuan desa sebagai pilar ekonomi keluarga yang tangguh. (bm)
Perjalanan ini bukan cerita kemarin sore. Sejak 2010, Desa Hargotirto telah mematri diri sebagai desa percontohan pemberdayaan masyarakat. Berawal dari inisiatif Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) yang bersinergi dengan UGM, napas pemberdayaan itu terus terjaga hingga hari ini. Ada 11 Kelompok Wanita Tani (KWT) yang menjadi tulang punggung penggeraknya. Semangat mereka bukan isapan jempol; salah satu kelompok bahkan sukses menyabet gelar juara pertama di tingkat kabupaten.
Kulon Progo memang tanah yang diberkati untuk empon-empon. Data Badan Pusat Statistik mengonfirmasi wilayah ini sebagai lumbung utama di Yogyakarta. Jahe, kencur, hingga temulawak tumbuh subur di sini. Namun, selama berpuluh-puluh tahun, mutu jahe hanya dinilai dari seberapa besar rimpangnya atau seberapa mulus kulitnya. Padahal, kekuatan sejati jahe ada pada molekul yang tak kasatmata.
Di sinilah tim Farmasi UGM masuk membawa terobosan. Prof Dr apt Agung Endro Nugroho, Ketua Program Equity, menjelaskan bahwa fokus mereka kini adalah penetapan mutu berbasis kadar 6-shogaol. Senyawa bioaktif ini merupakan kunci khasiat antiinflamasi, antioksidan, hingga antidiabetik dalam jahe. Tanpa parameter ilmiah ini, jahe Hargotirto sulit untuk naik kelas ke industri farmasi yang lebih luas.
"Istilah ‘Srikandi Desa Hargotirto’ mencerminkan peran aktif perempuan dalam kegiatan pemberdayaan di wilayah tersebut," ujar Prof. Agung. Baginya, menyatukan tangan dingin para ibu dengan ketelitian laboratorium adalah jalan ninja menuju kemandirian ekonomi. Riset aplikatif ini melibatkan kolaborator internasional, membuktikan bahwa potensi lokal dari sudut Kulon Progo mampu bicara banyak di kancah global.
Kini, para Srikandi tak lagi hanya menanam dan memanen. Mereka mulai memahami bahasa sains di balik rimpang yang mereka pegang setiap hari. Pendekatan berbasis sains ini diharapkan tidak hanya meningkatkan harga jual produk di pasar, tetapi juga memperkuat harga diri para perempuan desa sebagai pilar ekonomi keluarga yang tangguh. (bm)
Baca Juga:
Selesai sudah pembahasan menakar khasiat di balik pedasnya jahe langkah berani perempuan hargotirto ke kancah farmasi yang saya tuangkan dalam terkini Silakan cari tahu lebih banyak tentang hal ini tetap semangat berkolaborasi dan utamakan kesehatan keluarga. Ayo ajak orang lain untuk membaca postingan ini. Terima kasih telah meluangkan waktu
