Terkini

Sentuhan UGM Angkat Pamor Jahe Kulon Progo

Son Sulistiono

Jurnalis

Son Sulistiono

Sentuhan UGM Angkat Pamor Jahe Kulon Progo

Perempuan tangguh yang tergabung dalam 'Srikandi Desa' tengah menjemur jahe. Fakultas Farmasi UGM melakukan pendampingan mengolah jahe agar bermutu tinggi. Foto: dok. ugm.ac.id



KULON PROGO – Di balik asrinya perbukitan Kelurahan Hargotirto, Kulon Progo, sekelompok perempuan tangguh yang tergabung dalam 'Srikandi Desa' kini tengah bersiap naik kelas. Lewat pendampingan intensif dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 9 Mei 2026 lalu, para istri petani ini dibekali ilmu kefarmasian untuk menyulap jahe lokal menjadi produk herbal bermutu tinggi yang terstandar, bernilai ekonomis, dan siap bersaing di pasaran.

Kekayaan rimpang atau empon-empon di tanah Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya komoditas jahe, memang tak perlu diragukan lagi potensinya sebagai bahan baku herbal. Sayangnya, anugerah alam ini kerap terganjal oleh kendala pengolahan pascapanen yang masih tradisional. Standarisasi mutu yang berbasis pada senyawa aktif sering kali menjadi tantangan berat bagi industri rumahan di tingkat desa.

Merespons persoalan tersebut, tim pengabdian Fakultas Farmasi UGM turun langsung membawa pendekatan ilmiah yang aplikatif. Bukan sekadar meracik jahe menjadi olahan biasa, warga diedukasi mengenai sebuah metode spesifik: penetapan mutu berdasarkan takaran kadar 6-shogaol. Dengan parameter ilmiah ini, kualitas produk olahan Srikandi Desa tidak hanya aman dikonsumsi, tetapi juga memiliki jaminan khasiat medis yang terukur.

Program yang disokong penuh oleh Hibah Equity UGM ini dikemas dengan cara yang sangat membumi. Sepanjang rangkaian acara, puluhan perempuan desa tak sekadar menjadi pendengar dalam sesi sosialisasi dan diskusi kelompok terpumpun (FGD). Mereka diajak "turun gelanggang" mempraktikkan langsung cara mengolah jahe menggunakan teknologi tepat guna skala rumah tangga, mulai dari teknik pascapanen yang benar hingga pengemasan sediaan herbal sederhana.

Langkah ini rupanya tidak berhenti pada transfer pengetahuan semata. UGM juga mendorong terbentuknya kelompok kerja perempuan yang diplot sebagai mesin penggerak ekonomi mandiri di Hargotirto. Targetnya jelas: membina minimal 20 perempuan desa hingga mahir, merumuskan buku panduan mutu jahe 6-shogaol, dan melahirkan produk bernilai jual tinggi. Menariknya, universitas juga membuka pintu kolaborasi internasional guna memastikan inovasi di desa ini bisa terus berkelanjutan.

Tanpa disadari, kiprah Srikandi Desa di Hargotirto ini telah merangkai wujud nyata dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Lewat sepotong jahe, mereka turut menyumbang kontribusi bagi penciptaan hidup sehat dan sejahtera (SDG 3), mewujudkan kesetaraan gender di pelosok desa (SDG 5), memacu pertumbuhan ekonomi lokal (SDG 8), sekaligus mengampanyekan proses produksi yang bertanggung jawab terhadap alam (SDG 12). (bm)

Begitulah uraian mendalam mengenai sentuhan ugm angkat pamor jahe kulon progo dalam terkini yang saya bagikan Mudah-mudahan Anda mendapatkan manfaat dari artikel ini tetap semangat berkolaborasi dan utamakan kesehatan keluarga. Jika kamu peduli semoga Anda menikmati artikel lainnya di bawah ini.

Topik: #Terkini
Bagikan: