Ekbis & Investasi

Ironi Sang Tulang Punggung: Jeritan Bisu Kelas Menengah Terjepit Mahalnya BBM dan LPG

Son Sulistiono

Jurnalis

Son Sulistiono

Ironi Sang Tulang Punggung: Jeritan Bisu Kelas Menengah Terjepit Mahalnya BBM dan LPG

Ilustrasi lonjakan harga BBM akan membuat nasib kelas menengah semakin rentan. Dompet mereka sangat sensitif dan mudah berdarah akibat meroketnya biaya transportasi harian serta kebutuhan energi dapur. Grafis: AI



JAKARTA, KABARLINK.com - Ancaman lonjakan inflasi hingga 0,3 persen akibat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan LPG 12 kilogram rupanya menyimpan sebuah bom waktu yang jauh lebih krusial: nasib kelas menengah Indonesia yang posisinya makin rentan namun kerap dilupakan dari radar perlindungan negara. Peringatan tajam nan menggugah ini disuarakan oleh Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, di Jakarta pada Senin, 20 April 2026.

Di balik deretan angka statistik ekonomi, Fakhrul menyoroti realitas pahit yang sedang menimpa kelas menengah kita. Kelompok ini sejatinya adalah pahlawan tanpa tanda jasa; mereka bertindak sebagai bantalan peredam kejut (shock absorber) yang menjaga roda konsumsi domestik tetap berputar. Tragisnya, dalam desain kebijakan pemerintah, mereka justru menjadi pihak yang paling sering 'dianaktirikan'. Karena dianggap sudah mandiri, mereka tidak masuk dalam daftar penerima bantuan sosial (Bansos), namun di sisi lain, dompet mereka sangat sensitif dan mudah berdarah akibat meroketnya biaya transportasi harian serta kebutuhan energi dapur.

Lebih meresahkan lagi, tekanan finansial ini tidak berhenti di ujung selang SPBU. Fakhrul membedah efek domino berkelanjutan (second-round effect) yang siap menghantam fondasi ekonomi keluarga kelas menengah. Mahalnya biaya bahan bakar secara perlahan akan menggerus nilai aset yang susah payah mereka kumpulkan, seperti kendaraan bermotor pribadi. Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang belum juga reda, rambatan kenaikan harga energi ini dipastikan akan menginfeksi sektor logistik dan memicu lonjakan harga pangan. Jika pemerintah sampai 'kebobolan' dan membiarkan harga energi bersubsidi ikut naik, daya beli masyarakat bisa dipastikan lumpuh total.

Melihat ancaman yang sudah di depan mata, Fakhrul mendesak pemerintah untuk mengubah cara pandang. Negara tidak bisa lagi hanya mengandalkan jurus stimulus massal. Diperlukan komunikasi publik yang jujur bahwa kenaikan harga ini adalah penyesuaian struktural ekonomi.

Selain terus menajamkan akurasi distribusi Bansos untuk masyarakat bawah, pemerintah wajib menghadirkan pelampung penyelamat khusus (targeted cushioning) untuk merawat napas kelas menengah. Langkah konkret seperti memberikan suntikan insentif bagi sektor logistik dan memperkuat subsidi transportasi massal bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan mutlak. Sebab, membiarkan kelas menengah tenggelam sama saja dengan membiarkan motor penggerak ekonomi negara mati perlahan. (bm)

Sekian uraian detail mengenai ironi sang tulang punggung jeritan bisu kelas menengah terjepit mahalnya bbm dan lpg yang saya paparkan melalui ekbis & investasi Saya harap Anda merasa tercerahkan setelah membaca artikel ini tetap fokus pada tujuan dan jaga kebugaran. Mari berikan manfaat dengan membagikan ini. Sampai jumpa di artikel selanjutnya

Bagikan: