Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, meninjau 23,1 ton komoditas pangan secara ilegal yang berhasil dibawakan. Foto: Net/Dok.Kementan
JAKARTA, KABARLINK.com - Sabtu (18/4/2026) kemarin sepertinya menjadi akhir pekan yang cukup menyesakkan dada bagi roda ekonomi masyarakat menengah ke bawah, menyusul dua peristiwa besar yang memantik keprihatinan publik secara nasional: kejutan pahit lonjakan tajam harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang membebani pengusaha niaga, serta terkuaknya sindikat penyelundupan 23,1 ton bahan pangan impor di Pontianak yang secara diam-diam mengancam periuk nasi para petani lokal kita.
Keresahan pertama bermula dari deretan stasiun pengisian bahan bakar. Tanpa banyak basa-basi, PT Pertamina (Persero) mengerek harga tiga produk BBM kelas atasnya hingga ke titik yang membuat para pengguna mesin diesel dan kendaraan niaga menahan napas. Di ibu kota, harga Pertamax Turbo melompat jauh ke angka Rp19.400 per liter. Pukulan paling telak dirasakan pengguna Dexlite yang harganya meroket menjadi Rp23.600, serta Pertamina Dex yang kini menyentuh Rp23.900 per liter.
Bagi roda industri kecil dan logistik, angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan beban operasional yang langsung membengkak. Beruntung, di tengah syok finansial ini, masih ada jaring pengaman yang dipertahankan. Pemerintah tidak mengusik harga BBM penugasan dan subsidi; Pertalite masih terkunci di Rp10.000, Biosolar di Rp6.800, sementara Pertamax tetap di Rp12.300 per liter, memberikan sedikit ruang bernapas bagi masyarakat luas.
Belum usai menelan pil pahit dari sektor energi, empati publik kembali diuji dari sektor agrikultur. Di pesisir barat Kalimantan, aparat gabungan berhasil membongkar masuknya 23,1 ton komoditas pangan secara ilegal. Bayangkan jerih payah petani lokal kita yang bermandi keringat merawat kebun, harus berhadapan dengan banjirnya 9,1 ton bawang putih dan 2,2 ton cabai kering asal China, 7,9 ton bawang bombai Belanda, hingga berton-ton bawang dari Thailand dan India yang masuk lewat jalur gelap.
Melihat ancaman nyata terhadap kesejahteraan pahlawan pangan nasional, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tak bisa menyembunyikan kegeramannya. Baginya, penyitaan di Pontianak ini tak boleh hanya berhenti pada penangkapan kurir kelas teri di lapangan. Ia menuntut aparat untuk memburu sang dalang utama. Pasalnya, gempuran pangan selundupan ini adalah kejahatan sistemik yang berulang. Rentetan kasus sebelumnya—mulai dari ratusan ton beras ilegal di Sabang dan Karimun, hingga tumpukan bawang gelap di Surabaya dan Semarang—menjadi bukti nyata bahwa ada jaringan raksasa yang sedang bermain-main dengan keringat dan kelangsungan hidup petani Indonesia. (bm)
Sekian uraian detail mengenai dua pukulan ekonomi di akhir pekan dari cekikan harga bbm hingga gempuran pangan gelap yang menikam petani yang saya paparkan melalui terkini Saya berharap Anda mendapatkan insight baru dari tulisan ini selalu berpikir ke depan dan jaga kesehatan finansial. Mari berbagi kebaikan dengan membagikan ini. jangan lewatkan artikel lain di bawah ini.
