Terkini

Dekapan Senyap Rimba Borneo: Delapan Nyawa yang Tak Pernah Pulang

Son Sulistiono

Jurnalis

Son Sulistiono

Dekapan Senyap Rimba Borneo: Delapan Nyawa yang Tak Pernah Pulang
Helikopter Airbus, milik perusahaan lokal Matthew Air Nusantara itu, jatuh di hutan Kalimantan Barat (Kalbar), Kamis (16/4/2026) pagi. Foto: net/dok.istimewa via detik.com


JAKARTA, KABARLINK.com - Rimba raya Kalimantan Barat yang berkanopi rapat dan lebat selalu menyimpan keindahannya sendiri, namun pada Kamis (16/4/2026) pagi, pesona itu mendadak berubah menjadi saksi bisu sebuah tragedi memilukan. Di balik kabut tipis dan rimbunnya pepohonan di kawasan Sekadau, udara yang tenang mendadak terkoyak oleh akhir nahas sebuah perjalanan.

Hari itu seharusnya menjadi penerbangan rutinitas biasa bagi delapan pria—tujuh putra bangsa dan satu warga negara Malaysia—yang berada di dalam lambung helikopter Airbus milik Matthew Air Nusantara. Mereka pamit mengudara, meninggalkan orang-orang terkasih yang menanti di darat. Nahas, burung besi itu hanya sempat membelah cakrawala selama lima menit sebelum titiknya lenyap dari layar radar pengawas lalu lintas udara.

Lima menit yang krusial itu menjadi batas tipis antara kehidupan dan keheningan yang panjang. Komunikasi yang terputus seketika menggantikan deru baling-baling dengan ruang hampa, diisi oleh rentetan kecemasan, doa, dan air mata keluarga yang menggantungkan asa pada tim pencari.

Hingga malam turun menyelimuti gulita hutan Sekadau, tim SAR gabungan terus meretas medan yang tak kenal ampun demi merawat sebersit harapan. Namun, takdir rupanya telah digariskan. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, pada Jumat (17/4/2026), harus menyampaikan kabar yang meremukkan hati: dari balik puing-puing yang membisu, seluruh penumpang dan awak dipastikan telah mengembuskan napas terakhirnya. Kini, delapan raga yang telah terbujur kaku itu telah diterbangkan ke Pontianak, bersiap untuk dipulangkan kepada kehangatan pelukan keluarga yang kini hanya menyisakan isak tangis.

Duka yang menggantung di langit Borneo ini seakan merobek kembali luka lama dunia penerbangan Nusantara yang belum sepenuhnya sembuh. Memori kolektif kita kembali diseret pada kepiluan bulan Januari lalu, tatkala sepuluh nyawa terenggut di lereng gunung Sulawesi akibat jatuhnya pesawat carteran Kementerian Kelautan dan Perikanan. Rantai duka ini juga memperpanjang catatan hitam tahun sebelumnya, mulai dari jatuhnya helikopter yang merenggut delapan jiwa di Kalimantan Selatan pada bulan September, hingga tragedi serupa di pedalaman Ilaga, Papua, hanya berselang dua pekan setelahnya.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, setiap insiden bukanlah sekadar angka statistik kecelakaan udara. Di balik setiap puing pesawat yang jatuh, ada cerita yang terputus, ada kursi kosong di meja makan, dan ada rindu yang tak akan pernah lagi menemukan tempat untuk berpulang. (bm)

Terima kasih telah menyimak dekapan senyap rimba borneo delapan nyawa yang tak pernah pulang dalam terkini ini sampai akhir Jangan segan untuk mengeksplorasi topik ini lebih dalam kembangkan potensi diri dan jaga kesehatan mental. Ayo sebar kebaikan dengan membagikan ini kepada orang lain. Sampai jumpa lagi

Topik: #Terkini
Bagikan: