Ilustrasi masjid sebagai pusat peradaban. Ilustrasi: AI
Penulis: Nashihin N, pencintadan pemerhati masjid/musala
MEWUJUDKAN masjid sebagai pusat peradaban mungkin akan dianggaputopia atau jauh panggang dari api. Namun, jika menengok sejarah awalRasulullah membangun masjid, akan didapati benang merah dari keinginan ini.
Proyekperadaban melalui masjid pernah dilakukan Rasulullah pada masa beliau, yaitupada saat beliau hijrah dari Makah ke Madiah. Dari sana beliau memulai proyek peradaban Islam.
Dalam Al-Qur'an Allah berfirman,
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَبِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْيَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَالْمُهْتَدِيْنَ
"Sesungguhnya yang (layak) memakmurkan masjid-masjid Allahhanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, (yang) mendirikanshalat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah.Mereka itulah yang diharapkan temasuk golongan orang-orang yang mendapatpetunjuk." (al-Taubah[9]: 18)
Dalam ayat tersebut terdapat kalimat ya'muru masajidallahiyang artinya memakmurkan masjid-masjid Allah. Kata ini (ya'muru) maknanya lebih dari sekadar membangunatau merawat bangunan fisik. Dalam bahasa Arab kata ya'muru (amaraya'muru imaratan) bermakna menjagaagar sesuatu tetap hidup, tidak rusak, dan terus berfungsi sesuai tujuannya.
Dengan demikian, memakmurkan masjidbukan sebatas urusan kubah, mimbar, karpet, atau tempat wudu, dan lain-lain,tetapi bagaimana menjaga ruh, fungsi, dan orientasi masjid agar tetap menjadipusat pembinaan iman dan kehidupan umat.
Lalu masjid yang seperti apa yangdiinginkan untuk menjadi pusat peradaban? Pada masa Rasulullah masjid adalahpusat dari seluruh arah kehidupan umat yang berpusat di masjid Nabawi. Masjidpada masa itu menjadi fondasi kehidupan umat yang diatur dan diarahkanberdasarkan manhaj Nabawi dan syariat Islam.
Dalam konteks pendidikan, masjidberfungsi sebagai ruang pembinaan iman dan ilmu. Pada masa itu para sahabatmenghadiri halaqah, belajar langsung dari Nabi, menerima nasihat, dan menyerapajaran Islam melalui interaksi harian.
Pada masa itu juga masjid bukansebatas ruang singgah untuk belajar lalu pulang, melainkan sebagai institusi pembentukkarakter, tempat tumbuhnya generasi yang matang secara intelektual danspiritual.
Dari sisi kesehatan, pada saat itu, masjidmemiliki peran sebagai tempat penanganan kondisi darurat ketika terjadipeperangan, yaitu dengan memberikan perawatan bagi mereka yang terluka.
Adapun darisisi militer, masjid menjadi pusat konsolidasi dan perencanaan strategi perang.Sedang dari aspek pemerintahan dan sosial, masjid berfungsi sebagai balaimusyawarah, forum diplomasi, tempat penyelesaian urusan publik hingga sebagaikantor pelayanan masyarakat.
Rasulullah juga menerima delegasidari para kabilah di dalam masjid. Termasuk dalam masalah sosial dibicarakan didalamnya. Komunikasi sosial dan politik juga dilakukan di sana sehingga masjid menjadisemacam balai kota, pusat komunikasi, dan kantor pemerintah umat.
Fungsi masjid seperti tersebutpernah disampaikan oleh almarhum Prof. Mustafa Ali Ya'qub (mantan imam besarmasjid Istiqlal) bahwa masjid pada masa Rasulullah setidaknya memiliki limafungsi, yaitu masjid berfungsi sebagai tempat peribadatan, pembelajaran,musyawarah, merawat orang sakit hingga menjadi asrama.
Dalam sejarah tradisi Islam Jawa,terutama di lingkungan kesultanan Mataram Islam, dalam mendirikan pusatpemerintahan kota/kabupaten, dilakukan pola kraton, masjid, dan alun-alun.
Kraton merupakan simbol kekuatan politik, alun-alun simbol kehidupan sosial,dan masjid simbol kehidupan spiritual. Sebelah barat masjid terdapat kampungkauman yang berperan sebagai pengelola kegiatan keagamaan masjid. Sisa-sisapeninggalannya sampai saat ini masih terlihat di kota-kota dan kabupaten.
Di era digital saat ini, fungsimasjid dapat dimaksimalkan lagi fungsinya. Bahkan, fungsinya bisa diperluas,seperti digitalisasi manajemen, transparansi keuangan, advokasi, konsultasi, pemanfaatanaplikasi ZIS (zakat infak sedekah), dan aplikasi pembagian waris, sertapenguatan tata kelola takmir masjid yang dapat mempercepat pelayanan secaraprofesional.
Dalam hal ini, tentu dibutuhkantenaga-tenaga orang beriman yang memiliki komitmen kuat, profesional, handal, danmemiliki mental melayani dengan sepenuh hati dalam memakmurkan masjid. Semogasemangat Ramadan dapat menjadi momen indah untuk menggagas masjid sebagai pusatperadaban. Amin (*)
Itulah informasi komprehensif seputar opini ramadan momen mengembalikan peran masjid sebagai pusat peradaban yang saya sajikan dalam terkini Jangan segan untuk mencari referensi tambahan pantang menyerah dan utamakan kesehatan. Mari sebar kebaikan ini kepada semua. semoga Anda menikmati artikel lainnya. Sampai jumpa.
