Arca Buddha legendaris yang belum selesai dipahat, atau yang oleh warga lokal akrab disapa Mbah Belet. Foto:net via detik.com
BOROBUDUR, KABARLINK.com – Ada pemandangan yang tak biasa sekaligus sakral di kawasan Candi Borobudur menjelang puncak perayaan Hari Suci Waisak 2570 Tahun Buddha.
Arca Buddha legendaris yang belum selesai dipahat, atau yang oleh warga lokal akrab disapa Mbah Belet, kini tak lagi mendekam di dalam kesunyian ruang pamer Museum Karmawibhangga.
Artefak kuno yang selama berabad-abad memicu perdebatan sengit para sejarawan dunia ini telah resmi diboyong ke area terbuka di Zona 1 kawasan Borobudur, menjelma menjadi ruang spiritual baru yang memikat perhatian ribuan peziarah sebagai titik bermeditasi dan memanjatkan doa.
Boyongan Ageng
Boyongan Ageng
Perjalanan Mbah Belet menuju alam terbuka ini diawali lewat sebuah ritual khusus berskala besar yang bertajuk Boyongan Ageng pada awal Mei 2026 lalu. Prosesi pemindahan spiritual ini berlangsung khidmat dengan dihadiri oleh para pemuka agama Buddha, umat, masyarakat adat setempat, hingga Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon.
Kini, arca setinggi manusia itu bersemayam dengan anggun di Lapangan Kenari, bernaung di antara dua pohon kenari yang rindang. Kehadirannya di ruang terbuka ini sengaja dirancang untuk memberikan atmosfer yang lebih mendalam bagi umat yang merayakan Waisak pada hari Minggu (31/5/2026) ini.
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin, menegaskan bahwa merawat Borobudur tidak melulu soal menjaga kekokohan batu dan struktur fisiknya saja.
"Misi pelestarian kami tidak mandek pada perawatan fisik cagar budaya, melainkan juga merawat denyut makna yang hidup di dalamnya. Kami ingin Borobudur terus dikelola sebagai warisan dunia yang mampu menjembatani sejarah masa lalu dengan praktik spiritual masyarakat modern saat ini," urai Indira menceritakan esensi pemindahan tersebut.
Misteri di Balik Guratan Pahat yang Belum Usai
Misteri di Balik Guratan Pahat yang Belum Usai
Mbah Belet bukanlah patung batu biasa. Arca ini memiliki nilai historis yang luar biasa tinggi karena aslinya ditemukan di dalam stupa induk—titik paling sakral dan tertinggi di Candi Borobudur.
Pertama kali diekskavasi pada tahun 1842 oleh seorang pejabat pemerintahan kolonial Belanda, arca ini langsung memantik teka-teki arkeologis yang belum sepenuhnya terpecahkan hingga puluhan tahun kemudian.
Daya tarik utama arca ini terletak pada bentuk fisiknya yang tampak "cacat" atau belum rampung. Guratan pahatan pada bagian kaki dan tangannya terlihat masih kasar dan belum selesai, sementara area dahi dan wajahnya mengalami beberapa kerusakan. Ketidaksempurnaan inilah yang melahirkan faksi-faksi pendapat di kalangan pakar Buddhisme.
Arkeolog legendaris Indonesia, R. Soekmono, menilai arca ini tidak bisa serta-merta dikategorikan sebagai lambang Adi-Buddha (Buddha Tertinggi) sebagaimana konsep arca stupa induk pada umumnya, justru karena fisiknya yang tidak sempurna.
Daya tarik utama arca ini terletak pada bentuk fisiknya yang tampak "cacat" atau belum rampung. Guratan pahatan pada bagian kaki dan tangannya terlihat masih kasar dan belum selesai, sementara area dahi dan wajahnya mengalami beberapa kerusakan. Ketidaksempurnaan inilah yang melahirkan faksi-faksi pendapat di kalangan pakar Buddhisme.
Arkeolog legendaris Indonesia, R. Soekmono, menilai arca ini tidak bisa serta-merta dikategorikan sebagai lambang Adi-Buddha (Buddha Tertinggi) sebagaimana konsep arca stupa induk pada umumnya, justru karena fisiknya yang tidak sempurna.
Sebaliknya, pakar Buddhisme Tibet, Anagarika Govinda, memiliki sudut pandang filosofis yang sangat indah. Ia menyepadankan Mbah Belet dengan wujud Adi-Buddha Vajradhara yang ada di Tibet, di mana ketidaksempurnaan bentuk fisik itu justru sengaja dipakai sebagai simbol seni tinggi untuk menggambarkan hakikat ketuhanan sejati yang melampaui batas-batas wujud duniawi.
Magnet Spiritual Puncak Waisak 2026
Magnet Spiritual Puncak Waisak 2026
Terlepas dari tabir misteri sejarah yang menyelimutinya, Mbah Belet kini resmi mengemban peran penting dalam perayaan Waisak tahun ini. Sejak pagi hari, pelataran Lapangan Kenari telah dipadati umat yang larut dalam keheningan doa dan meditasi di depan arca.
Aktivitas spiritual ini akan terus bersambung hingga detik-detik puncak Waisak yang jatuh tepat pada pukul 15.44.44 WIB. Umat Buddha dari berbagai penjuru dunia akan menyatukan energi dalam meditasi bersama dan prosesi hening cipta yang sakral di pelataran utama Borobudur.
Memasuki malam hari, langit di atas candi dipastikan akan bersinar indah dengan pelepasan ribuan lampion yang selalu menjadi momen magis paling dinanti oleh umat maupun pelancong.
Hajatan religius nasional ini juga dijadwalkan dihadiri oleh jajaran kabinet, mulai dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Menteri Agama Nasaruddin Umar, hingga Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya.
Bagi para peziarah yang datang jauh-jauh ke Borobudur, duduk bersimpuh di hadapan Mbah Belet di bawah embusan angin sore memberikan pengalaman batin yang berbeda.
Bagi para peziarah yang datang jauh-jauh ke Borobudur, duduk bersimpuh di hadapan Mbah Belet di bawah embusan angin sore memberikan pengalaman batin yang berbeda.
Arca yang tak pernah selesai dipahat itu seolah berbisik, mengingatkan setiap manusia tentang arti penerimaan, kedamaian, dan bahwa kesempurnaan sejati terkadang bersembunyi di balik ketidaksempurnaan yang kasat mata. (bm)
Sumber: detik.com
Baca Juga:
- ➝ Wali Kota Agustina Tegaskan Pemkot Semarang Hadir untuk Warga: Dampingi Anak Yatim dan Ringankan Beban Keluarga yang Berduka
- ➝ Merajut Kembali Marwah Leluhur: Langkah Strategis LAM Kerinci dan Sungai Penuh Jaga Kesatuan Adat Sakti Alam
- ➝ Mendagri Hadiri Puncak PENAS Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo
.png)