- Dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ir. Rahmat Adiprasetya Al Hasibi. Foto: dok.UMY
YOGYAKARTA, KABARLINK.com – Ambisi besar Indonesia untuk segera melakukan transisi dari energi fosil menuju energi terbarukan (EBT) rupanya masih tersandera oleh kelemahan infrastruktur dasar. Sistem kelistrikan nasional dinilai terlalu kaku dan berpotensi mengalami ketidakstabilan parah jika dipaksa menampung aliran listrik fluktuatif dari sumber alam seperti tenaga surya maupun angin.
Fakta krusial ini dibongkar oleh Dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ir. Rahmat Adiprasetya Al Hasibi, pada Sabtu (25/4/2026). Ia menyoroti bahwa fondasi jaringan listrik Nusantara—bahkan di wilayah terkuat seperti interkoneksi Jawa-Bali—sejak awal didesain secara eksklusif untuk menerima pasokan daya yang konstan dari pembangkit konvensional, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara atau bendungan air.
Menurut Rahmat, karakter energi bersih yang sangat bergantung pada cuaca akan menjadi mimpi buruk bagi stabilitas tegangan jika sistem tidak segera dirombak. Ketika cuaca mendadak mendung dan produksi panel surya anjlok, jaringan listrik dituntut harus mampu melakukan kompensasi daya dalam hitungan detik.
"Ketika produksi dari energi terbarukan tiba-tiba turun, sistem harus langsung menyesuaikan agar frekuensi dan tegangan tetap seimbang. Ini persoalan teknis yang rumit, dan saat ini Indonesia masih berada di tahap paling awal untuk bisa mencapai kesiapan adaptasi tersebut," tegas Rahmat dalam pemaparannya secara daring.
Ancaman malfungsi sistem ini diproyeksikan bakal jauh lebih fatal jika diterapkan di daerah luar Jawa-Bali. Minimnya kapasitas jaringan kelistrikan di wilayah tersebut membuatnya tidak memiliki fleksibilitas yang cukup untuk meredam 'kejutan' fluktuasi daya dari energi terbarukan.
Selain masalah kestabilan teknis, Rahmat juga menyoroti ironi geografis dalam proyek transisi energi nasional. Mayoritas lumbung potensi energi bersih di Indonesia berada di titik-titik terpencil. Sayangnya, potensi emas ini tidak dibarengi dengan pembangunan 'jalan tol' kelistrikan. Infrastruktur transmisi dan distribusi PLN saat ini belum mampu menjangkau sumber-sumber energi terbarukan tersebut secara optimal.
Akibatnya, sehebat apa pun pembangkit hijau yang dibangun di daerah terpelosok, energinya akan terbuang percuma karena tidak bisa disalurkan ke pusat-pusat konsumsi listrik massal.
Melalui peringatan ini, pakar kelistrikan UMY tersebut menggarisbawahi sebuah kesimpulan tegas: pemerintah tidak bisa lagi hanya berfokus pada peresmian pembangkit energi terbarukan. Jika revolusi infrastruktur transmisi dan penguatan fleksibilitas jaringan diabaikan, transisi energi hijau di Indonesia dipastikan tidak akan pernah berjalan optimal. (bm)
- ➝ Memburu Tiket 32 Besar: Menakar Sihir Messi dan Tembok Austria di Panggung Dallas
- ➝ Akhir Pelarian Pengusaha Batu Bara: Richard Muljadi Diciduk di Bandara Soetta Usai Plesiran ke Singapura
- ➝ Dampingi Wapres Gibran di Papua Barat, Wamendagri Ribka Haluk Tegaskan Hilirisasi Kakao Bukti Nyata Keberhasilan Dana Otsus Papua
.png)