Terkini

Fenomena 'PHK Cepat', Riset Ungkap 98 Persen Gen Z Kekurangan Etos Kerja yang Dicari Perusahaan

Son Sulistiono

Jurnalis

Son Sulistiono

Fenomena 'PHK Cepat', Riset Ungkap 98 Persen Gen Z Kekurangan Etos Kerja yang Dicari Perusahaan
Ilustrasi pemecatan karyawan dari kelompok Generasi Z. Grafis: AI


KABARLINK.com – Fenomena pemecatan karyawan dari kelompok Generasi Z (Gen Z) hanya beberapa bulan setelah direkrut tengah menjadi sorotan tajam di dunia kerja. Sebuah survei terbaru dari Intelligent mengungkap bahwa enam dari 10 perusahaan terpaksa memberhentikan pekerja muda mereka akibat benturan prinsip yang ekstrem. Secara statistik, 98 persen dari Gen Z terbukti tidak memiliki nilai-nilai karakter dasar yang menjadi standar ekspektasi para manajer perekrutan.

Profesor New York University (NYU), Suzy Welch, menjelaskan bahwa temuan ini adalah cerminan nyata dari pergeseran radikal di pasar tenaga kerja saat ini. Berdasarkan riset yang melibatkan sekitar 200.000 responden selama setahun terakhir melalui metode The Values Bridge, Welch menemukan jurang pemisah yang lebar antara prioritas hidup Gen Z dan tuntutan dunia korporat.

"Data menunjukkan hanya 2 persen dari Generasi Z yang memiliki nilai-nilai yang diinginkan dan dicari oleh manajer perekrutan. Angka 98 persen yang tidak memilikinya ini sangat besar. Beberapa perusahaan bahkan mengaku harus berjuang mati-matian hanya untuk memperebutkan 2 persen pekerja yang sesuai standar tersebut," terang Welch, Kamis (7/5/2026).

Benturan Nilai Korporat vs Gen Z

Terjadinya gelombang pemecatan cepat ini bermuara pada perbedaan prioritas fundamental: Yakni, Prioritas Perusahaan: Manajer perekrutan mencari kandidat yang mengutamakan prestasi (keinginan untuk menang), fokus penuh pada pekerjaan, dan memiliki ruang lingkup proaktif (keinginan kuat untuk belajar dan beraktivitas).

Kemudian, Prioritas Gen Z: Pekerja muda lebih menjunjung tinggi self-care (perawatan diri), kebebasan mengekspresikan diri secara autentik, serta keinginan untuk membantu orang lain.

Menurut Welch, pekerja muda saat ini secara sadar menolak budaya kerja keras (hustle culture) generasi sebelumnya karena dianggap tidak menjamin stabilitas hidup. Mereka lebih memilih menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup daripada mengejar karier secara agresif.

"Gen Z pada dasarnya melihat orang tua mereka memiliki nilai-nilai loyalitas dan kerja keras itu, namun ujung-ujungnya tetap menganggur di usia 54 tahun. Sehingga mereka berkata, 'Itu nilai-nilai Anda dan itu tidak berhasil, saya tidak akan menerimanya'," tutur Welch.

Meski demikian, Welch menegaskan bahwa nilai yang dianut Gen Z tidaklah salah dan mereka tidak wajib mengubah prinsip hidup hanya demi korporat. Namun, ia mengingatkan adanya konsekuensi logis: Gen Z akan kesulitan mendapatkan jenis pekerjaan mapan yang selama ini disiapkan sesuai dengan gelar sarjana mereka.

Tingkat Pengangguran Melonjak

Benturan nilai ini pada akhirnya berdampak langsung pada statistik serapan kerja. Berdasarkan data Federal Reserve New York pada akhir 2025, tingkat pengangguran lulusan baru di Amerika Serikat telah menembus angka 5,7 persen, lebih tinggi 1,5 poin dibandingkan kelompok usia kerja lainnya.

Selain faktor karakter, lonjakan pengangguran ini juga diperparah oleh efisiensi struktural perusahaan dan disrupsi teknologi Artificial Intelligence (AI). Menghadapi situasi ini, para lulusan baru disarankan untuk lebih pragmatis, membuka diri terhadap berbagai jenis pekerjaan alternatif, dan tidak hanya terpaku pada jalur karier yang linier dengan jurusan kuliah mereka. (bm)

Itulah penjelasan rinci seputar fenomena phk cepat riset ungkap 98 persen gen z kekurangan etos kerja yang dicari perusahaan yang saya bagikan dalam terkini Semoga artikel ini menjadi inspirasi bagi Anda selalu belajar dari pengalaman dan perhatikan kesehatan reproduksi. Silakan share ke orang-orang di sekitarmu. Sampai jumpa di artikel selanjutnya

Topik: #Terkini
Bagikan: