Terkini

Bara di Selat Hormuz, Badai di Tanah Air: Nilai Tukar Rupiah Terperosok ke Rekor Tergelap Rp17.500

Son Sulistiono

Jurnalis

Son Sulistiono

Bara di Selat Hormuz, Badai di Tanah Air: Nilai Tukar Rupiah Terperosok ke Rekor Tergelap Rp17.500

Aktivitas petugas money changer di kawasan Jakarta saat menyortir lembaran uang kertas dolar AS, Jumat (24/4/2026). Anjloknya nilai tukar mata uang Garuda yang menembus rekor terpuruk di level Rp17.500/US$ kini tengah menjadi sorotan utama pasar. Foto: Muhammad Sabki/CNBC Indonesia



JAKARTA, KABARLINK.com - Mata uang Garuda harus menelan pil pahit pada perdagangan pagi ini. Imbas dari memanasnya kembali konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah nyatanya mengirimkan gelombang kejut hingga ke pasar keuangan domestik. Rupiah pun tersungkur ke titik terendah sepanjang sejarah, menembus angka psikologis Rp17.500 per dolar AS, sebuah rekor kelam yang belum pernah tersentuh sebelumnya.

Melihat rekam jejak pergerakan nilai tukar, tren depresiasi ini tampak berjalan begitu agresif. Sinyal kejatuhan tajam hari ini sudah tercium sejak awal bel pembukaan pasar, di mana Rupiah langsung tergelincir 0,43 persen ke level Rp17.480, beriringan dengan naiknya Indeks Dolar AS (DXY) sebesar 0,21 persen ke posisi 98,115.

Untuk melihat seberapa ekstrem lonjakan tersebut, berikut adalah rekam jejak pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dalam 10 bulan terakhir:

GRAFIS: PERGERAKAN RUPIAH MELAWAN DOLAR AS (Jul 2025 - Mei 2026) (Sumber Data: Refinitiv)

Screenshot 2026-05-12 102305.jpg

Akar dari badai finansial dan lonjakan grafik di atas bermuara pada pernyataan teranyar Presiden AS, Donald Trump. Harapan akan terwujudnya perdamaian seketika pudar kala Trump menyebut kesepakatan gencatan senjata yang sempat dirajut sejak 7 April kini berada "di ujung tanduk". Kegagalan diplomasi ini dipicu oleh penolakan tegas Teheran terhadap proposal damai yang disodorkan pihak Washington.

Bukan tanpa alasan, Teheran mengajukan sederet syarat berat dalam perundingan tersebut. Mereka meminta agar seluruh eskalasi bersenjata, tak terkecuali di wilayah Lebanon, segera diakhiri. Lebih lanjut, Iran juga menuntut ganti rugi akibat perang, pencabutan blokade maritim oleh AS, jaminan kebebasan ekspor minyak buminya, serta kepastian tak ada lagi invasi susulan. Hal yang paling membuat pasar dunia merinding adalah ketegasan Iran yang mengklaim kendali penuh atas Selat Hormuz—urat nadi maritim yang menjadi jalur distribusi bagi 20 persen pasokan minyak dan gas global.

Bagi Donald Trump, daftar tuntutan tersebut dianggap sama sekali tidak masuk akal untuk dikabulkan. Di lain kubu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, tak gentar dan memastikan angkatan bersenjata negerinya selalu dalam mode siaga penuh untuk menangkis segala bentuk agresi dari luar.

Sengkarut diplomasi ini dengan cepat memicu kepanikan di pasar komoditas. Harga minyak mentah berjangka Brent melesat tajam lebih dari 3 persen, menembus batas US$104 per barel. Arus pelayaran kapal tanker di perairan Selat Hormuz pun mendadak sepi, memaksa para produsen memangkas laju ekspor dan mencekik ketersediaan energi global.

Di tengah pusaran konflik ini, manuver sanksi AS juga tak surut. Hukuman ekonomi baru kembali dijatuhkan kepada pihak-pihak yang dinilai memfasilitasi penjualan minyak Iran ke wilayah Tiongkok. Ironisnya, langkah keras Trump di Timur Tengah ini justru memanen keraguan di dalam negerinya sendiri. Sebuah survei menunjukkan bahwa mayoritas warga Amerika—dua dari tiga orang—menilai sang presiden gagal merumuskan esensi dan tujuan yang jelas dari perang tersebut.

Kini, mata dunia akan tertuju pada pertemuan tingkat tinggi antara Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing pada hari Rabu esok, di mana krisis Iran diyakini kuat akan menjadi sajian utama di meja perundingan. (bm)

Sekian ulasan tentang bara di selat hormuz badai di tanah air nilai tukar rupiah terperosok ke rekor tergelap rp17500 yang saya sampaikan melalui terkini Selamat menggali informasi lebih lanjut tentang tema ini ciptakan lingkungan positif dan jaga kesehatan otak. Ayo sebar informasi yang bermanfaat ini. semoga artikel lain berikutnya menarik. Terima kasih.

Topik: #Terkini
Bagikan: