Terkini

Era Kios Kripto Berakhir Tragis: Raksasa ATM Bitcoin Kolaps, Ribuan Mesin Mendadak Mati Total di Tiga Negara

Son Sulistiono

Jurnalis

Son Sulistiono

Era Kios Kripto Berakhir Tragis: Raksasa ATM Bitcoin Kolaps, Ribuan Mesin Mendadak Mati Total di Tiga Negara
Bitcoin Depot ATM. Foto: net/Facebook Bitcoin Depot via cnbcindonesia.com


JAKARTA, KABARLINK.com - Kabar mengejutkan datang dari panggung aset digital dunia setelah Bitcoin Depot, sang pionir sekaligus penguasa jaringan ATM Bitcoin global yang melantai di bursa saham New York (Nasdaq), resmi mengumumkan gulung tikar. Perusahaan raksasa yang berbasis di Atlanta, Amerika Serikat ini secara sukarela mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 demi mengakhiri napas bisnisnya yang tercekik kerugian besar. Langkah darurat ini seketika memadamkan seluruh operasional ribuan mesin anjungan tunai mandiri kripto mereka di AS, Kanada, hingga Australia, menandai berakhirnya sebuah era transaksi fisik mata uang virtual secara instan.

Ribuan Kios 'Mati Lampu' Sekaligus

Penutupan ini terbilang sangat drastis jika melihat rekam jejak mentereng perusahaan. Bayangkan saja, hingga akhir tahun lalu, Bitcoin Depot masih jemawa mengoperasikan sedikitnya 9.276 unit kios ATM. Ribuan mesin itu tersebar di berbagai sudut strategis minimarket dan pusat perbelanjaan guna melayani para pengguna yang ingin menukarkan uang tunai lembaran menjadi kepingan Bitcoin.

Namun, pemandangan itu kini tinggal sejarah. Per Senin (18/5) waktu setempat, lewat pengajuan kepailitan di Pengadilan Kebangkrutan AS untuk Distrik Selatan di Texas, seluruh jaringan mesin tersebut resmi berstatus offline alias mati total. Manajemen memastikan tidak ada lagi aktivitas transaksi dan seluruh aset fisik perusahaan akan segera dilelang guna memenuhi kewajiban hukum.

Ambruknya sang raksasa dipicu oleh pendarahan hebat pada laporan keuangan Kuartal I-2026 mereka. Pendapatan perusahaan dilaporkan terjun bebas hingga 49% secara tahunan (YoY). Rapor merah pun tak terhindarkan dengan catatan kerugian bersih mencapai US$9,5 juta—sebuah pemandangan kontras dibandingkan periode yang sama tahun lalu di mana mereka masih bisa mengantongi laba bersih sebesar US$12,2 juta. Di saat yang sama, margin laba kotor perusahaan ikut tergerus habis hingga 85% dan menyisakan US$45 juta saja.

Ketatnya Regulasi dan Tuduhan Sarang 'Tipu-Tipu'

Dalam pernyataan resminya, CEO Bitcoin Depot, Alex Holmes, secara blak-blakan menunjuk hidung otoritas regulasi sebagai biang keladi di balik hancurnya bisnis mereka. Ia mengeluhkan aturan birokrasi dari berbagai negara bagian yang kian hari kian mencekik leher para pelaku industri BTM (Bitcoin Teller Machine).

"Otoritas di berbagai yurisdiksi memberlakukan standar kepatuhan yang luar biasa ketat. Mulai dari pembatasan nominal transaksi baru, hingga larangan operasi secara total di beberapa wilayah hukum. Akibatnya, pelaku usaha terus-menerus dihujani gugatan hukum," keluh Holmes seperti dikutip dari CoinDesk, Selasa (19/5/2026). Ia menambahkan bahwa dalam ekosistem yang penuh tekanan seperti sekarang, model bisnis konversi tunai ke kripto lewat mesin fisik sudah tidak mungkin lagi untuk dipertahankan.

Sentilan Holmes mengenai tekanan hukum memang bukan isapan jempol. Bitcoin Depot diketahui tengah kepayahan menghadapi tuntutan hukum tingkat tinggi yang digalang oleh Jaksa Agung di negara bagian Massachusetts dan Iowa. Perusahaan dituding menutup mata dan ikut memfasilitasi menjamurnya sindikat penipuan kripto berbasis setoran tunai.

Kekhawatiran para penegak hukum pun sangat beralasan. Data statistik menunjukkan angka kerugian masyarakat akibat penipuan lewat jaringan ATM kripto melonjak drastis hingga 58% dibanding tahun sebelumnya, dengan total kerugian menyentuh rekor mengerikan sebesar US$389 juta. Angka inilah yang memicu para regulator bergerak agresif menyisir para operator mesin.

Ironi di Tengah Geliat Institusional

Guna memuluskan proses likuidasi, manajemen akhirnya ikut menyeret seluruh anak usaha mereka di Kanada ke dalam proses peradilan pailit di AS. Sementara itu, jaringan operasional non-AS lainnya di berbagai belahan dunia akan disuntik mati secara perlahan dengan mengikuti prosedur hukum setempat.

Tumbangnya Bitcoin Depot memercikkan ironi tersendiri dalam garis waktu industri kripto dunia. Pasalnya, kejatuhan ini terjadi justru di saat ekosistem aset digital secara makro sedang menikmati masa-masa indah berkat gelombang adopsi institusional yang masif.

Ketika publik dan korporasi besar mulai nyaman berinvestasi lewat instrumen alternatif yang jauh lebih aman dan teregulasi seperti ETF (Exchange-Traded Funds) serta dipayungi hukum kuat lewat Clarity Act, model bisnis kuno bermedium mesin ATM fisik yang rawan penggelapan uang justru harus terdepak dari kerasnya persaingan pasar. (bm)

Demikianlah informasi seputar era kios kripto berakhir tragis raksasa atm bitcoin kolaps ribuan mesin mendadak mati total di tiga negara yang saya bagikan dalam terkini Siapa tau ini jadi manfaat untuk kalian selalu berpikir positif dan jaga kondisi tubuh. Jika kamu peduli terima kasih.

Topik: #Terkini
Bagikan: