Ekbis & Investasi

Belajar dari Kopi Kethip, Cara Desa Wirokerten Mencari Inspirasi Ekonomi Komunitas

Son Sulistiono

Jurnalis

Son Sulistiono

Belajar dari Kopi Kethip, Cara Desa Wirokerten Mencari Inspirasi Ekonomi Komunitas

Suasana sajian menu kuliner Angkringan dan Kopi Kethip di Sebaran, Sidoarum, Godean, Sleman, Rabu (20/5/2026). Foto: Tri Wahyuni/Kabarlink.com



SLEMAN, KABARLINK.com - Lampu-lampu gantung berpendar syahdu di bawah naungan pepohonan. Suasana pedesaan malam itu terasa kental di sudut Sebaran, Sidoarum, Godean, di mana tawa pengunjung berpadu dengan aroma kopi yang menguar di udara terbuka.

 

Tidak ada sekat dinding yang kaku, hanya ruang lapang yang membebaskan siapa saja untuk memilih cara bersantai, entah itu duduk tegak di kursi tua atau selonjoran nyaman di atas bumi beralas tikar.

 

Rabu sore yang cerah pada 20 Mei 2026 menjadi momentum penting bagi puluhan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) asal Desa Wirokerten, Kapanewon Banguntapan, Bantul.

 

Menggunakan bus besar dari Kantor Desa Wirokerten, mereka menempuh perjalanan menuju Godean, Sleman, dengan satu tujuan: membedah rahasia sukses Angkringan dan Kopi Kethip.

 

Kunjungan ini bukan sekadar perjalanan wisata biasa, melainkan kelanjutan dari pelatihan peningkatan kapasitas yang sebelumnya diinisiasi oleh Dinas Koperasi dan UMKM DIY melalui program Desa Mandiri Budaya.

 

Dari Kebun Angker ke Destinasi Kuliner

 

Iwan Daru, pengelola Kopi Kethip yang juga menjabat sebagai Dukuh Sebaran, menyambut rombongan dengan antusiasme tinggi. Sambil duduk santai, ia menceritakan sejarah lahan yang kini menjadi pusat ekonomi warga tersebut.

 

Dahulu, area ini hanyalah kebun kosong yang dipenuhi bangunan mangkrak dan semak belukar yang menjulang tinggi. Warga bahkan mengenalnya sebagai tempat pembuangan sampah yang memberikan kesan angker dan tidak terawat.

 

Transformasi dimulai ketika warga dikerahkan dalam sebuah lomba kebersihan desa. Semak belukar dibabat habis, sampah-sampah dibersihkan, hingga lahan tersebut layak huni. Dengan modal awal sewa lahan sebesar Rp10 juta per tahun, Iwan mulai merajut mimpi membangun pusat ekonomi.

 

Nama "Kethip" sendiri diambil dari istilah mata uang zaman dulu. Awalnya, tempat ini merupakan Pasar Kethip yang beroperasi setiap Minggu Legi, di mana pengunjung wajib menukarkan rupiah dengan “Kethip” yang dibuat dari kepingan triplek sebagai alat tukar sah. Ini sebuah gimik unik yang berhasil menarik perhatian publik sebelum pandemi COVID-19 memaksa kegiatan tersebut berhenti total.

 

Bertahan dari Badai Pandemi

 

Pandemi COVID-19 sempat melumpuhkan Pasar Kethip karena larangan berkerumun. Namun, Iwan Daru dan pemuda setempat menolak menyerah pada keadaan.

 

Setelah jeda yang cukup lama, mereka mencoba bangkit dengan konsep baru: angkringan ala kafe. Perjuangan ini tidak mudah, mengingat protokol kesehatan yang sangat ketat kala itu.

 

Hingga kini, jejak kehati-hatian tersebut masih terlihat dari ketersediaan fasilitas cuci tangan di berbagai titik dan kewajiban memakai masker saat pengunjung mengambil makanan.

 

Langkah berani itu membuahkan hasil manis. Kopi Kethip kini bertransformasi menjadi unit bisnis yang beroperasi setiap hari mulai pukul 17.00 WIB hingga 22.00 WIB.

 

Konsepnya tetap mempertahankan nilai-nilai lokal namun dikemas dengan fleksibilitas ala kafe modern, menjadikannya magnet bagi anak muda maupun keluarga yang merindukan suasana pedesaan yang ramah.

 

Ekonomi Gotong Royong

 

Kekuatan utama Kopi Kethip bukan hanya pada estetikanya, melainkan pada pemberdayaan masyarakatnya. Iwan mengungkapkan bahwa hidangan yang tersaji di sana bukan berasal dari satu dapur pusat, melainkan hasil karya tangan warga Dusun Sebaran.

 

Sedikitnya ada 27 kepala keluarga terlibat aktif memasok menu yang berbeda-beda, memastikan variasi makanan tetap terjaga dan persaingan antar-warga tetap sehat.

 

Strategi initerbukti sangat efektif. Dengan variasi menu yang sangat luas, konsumen memiliki banyak pilihan yang membuat mereka terus kembali. Efek dominonya pun luar biasa; omzet Angkringan dan Kopi Kethip kini menyentuh angka Rp5 juta hingga Rp7 juta per hari. Sebuah angka yang fantastis untuk sebuah usaha berbasis komunitas di tingkat dusun.

 

Harapan Baru Desa Wirokerten

 

Widayanto,SE, selaku Pendamping UMKM sekaligus Ulu-Ulu Desa Wirokerten, mengamati setiap jengkal operasional Kopi Kethip dengan saksama. Baginya, model bisnis ini adalah contoh nyata penerapan prinsip amati, tiru, dan modifikasi.

 

Ia berharap para pelaku UMKM bisa membawa pulang semangat pemberdayaan ini untuk diterapkan di Desa Wirokerten. Tujuannya jelas: menciptakan ekosistem ekonomi yang mampu mendukung kesejahteraan keluarga secara mandiri.

 

Inspirasi ini juga dirasakan langsung oleh Tri Wahyuni, salah satu pelaku UMKM yang ikut dalam rombongan. Baginya, Kopi Kethip membuktikan bahwa kualitas tidak harus selalu dibayar mahal.

 

Hanya dengan mengeluarkan uang sebesar Rp11.500, ia sudah bisa menikmati hidangan lengkap mulai dari nasi bungkus cumi sambel ijo, martabak, sate ayam, hingga segelas es jeruk segar.

 

Harga yang sangat merakyat inilah yang menurutnya menjadi kunci mengapa tempat ini tidak pernah sepi pengunjung, sekaligus menjadi motivasi besar bagi para pengusaha kecil untuk terus berinovasi tanpa harus membebani kantong konsumen. (bm)

Terima kasih telah mengikuti penjelasan belajar dari kopi kethip cara desa wirokerten mencari inspirasi ekonomi komunitas dalam ekbis & investasi ini hingga selesai Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca tingkatkan keterampilan komunikasi dan perhatikan kesehatan sosial. bagikan kepada teman-temanmu. Sampai bertemu di artikel menarik lainnya. Terima kasih banyak.

Bagikan:

Up Next

Lihat Semua