Kapal induk USS Abraham Lincoln. Foto: net/cnnindonesia.com
JAKARTA, KABARLINK.com - Lama penugasan yang melelahkan dan tekanan mental di atas samudera berujung petaka bagi armada militer Amerika Serikat. Sebanyak tujuh prajurit dilaporkan tewas mengenaskan akibat terlibat pertikaian fisik hebat di atas kapal induk USS Abraham Lincoln.
Insiden berdarah ini disinyalir dipicu oleh depresi serta tekanan psikologis berat setelah para awak kapal menjalani masa penugasan tanpa henti selama 263 hari.
Suasana kerja yang ekstrem dan minimnya waktu rehat menjadi faktor utama yang mengikis stamina serta kestabilan emosi para tentara. Menurut pengakuan pihak keluarga, para kru harus menjalani rotasi jam kerja yang sangat panjang dengan hari libur yang tergolong amat langka.
Suasana kerja yang ekstrem dan minimnya waktu rehat menjadi faktor utama yang mengikis stamina serta kestabilan emosi para tentara. Menurut pengakuan pihak keluarga, para kru harus menjalani rotasi jam kerja yang sangat panjang dengan hari libur yang tergolong amat langka.
Bahkan, catatan media MS Snow mengungkapkan bahwa sejak bertolak dari pelabuhan San Diego pada bulan November, awak kapal tercatat baru mengecap dua hari libur secara keseluruhan. Kondisi tersebut kian diperparah oleh lingkungan kapal yang padat, bising, dan senantiasa diselimuti risiko keselamatan kerja yang tinggi.
Masalah tidak berhenti pada aspek operasional. Keluhan terkait pemenuhan fasilitas dasar dan kebutuhan harian turut memperkeruh situasi di atas kapal. Pihak keluarga membeberkan gambaran memprihatinkan tentang kondisi sanitasi kamar mandi yang berjamur, antrean panjang di toko kapal, hingga kelangkaan barang-barang higienitas dasar seperti sabun, pasta gigi, dan deodoran.
Masalah tidak berhenti pada aspek operasional. Keluhan terkait pemenuhan fasilitas dasar dan kebutuhan harian turut memperkeruh situasi di atas kapal. Pihak keluarga membeberkan gambaran memprihatinkan tentang kondisi sanitasi kamar mandi yang berjamur, antrean panjang di toko kapal, hingga kelangkaan barang-barang higienitas dasar seperti sabun, pasta gigi, dan deodoran.
Tak hanya itu, pada bulan April lalu, sempat beredar foto yang memperlihatkan porsi hidangan makanan bagi para prajurit yang dinilai sangat minim dan jauh dari kata layak.
Di sisi lain, jajaran pejabat tinggi pertahanan memilih untuk menepis keras tudingan tersebut. Menteri Pertahanan Pete Hegseth serta Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana Daryl Caudle secara tegas membantah laporan mengenai keburukan fasilitas itu.
Di sisi lain, jajaran pejabat tinggi pertahanan memilih untuk menepis keras tudingan tersebut. Menteri Pertahanan Pete Hegseth serta Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana Daryl Caudle secara tegas membantah laporan mengenai keburukan fasilitas itu.
Meski begitu, Komandan Joseph Hontz selaku Juru Bicar Armada ke-5 Angkatan Laut mengakui bahwa masalah pasokan air bersih terkadang memang sempat terjadi di atas kapal, walau menurutnya gangguan teknis tersebut dapat ditangani dengan cepat. Kendati demikian, akumulasi tekanan fisik dan mental yang terus menumpuk di ruang tertutup itu akhirnya tak terbendung dan memicu tragedi pilu di tengah lautan. (bm)
Sumber: cnnindonesia.com
.png)