Skuad Bhayangkara Presisi Lampung FC saat berjibaku menahan gempuran PSIM Yogyakarta di Stadion Sumpah Pemuda PKOR Way Halim, Bandarlampung, Jumat (17/6/2026). Laga ini diwarnai drama anulir VAR dan kebangkitan epik tuan rumah yang berakhir dengan skor 2-1. Foto: ANTARA/Dian Hadiyatna
BANDARLAMPUNG, KABARLINK.com - Ada keheningan yang tak biasa merayap di tribun Stadion Sumpah Pemuda PKOR Way Halim pada Jumat (17/4/2026) petang. Laga baru berjalan sembilan menit, namun ribuan pendukung tuan rumah terpaksa menelan ludah ketika sebuah skema serangan tenang dari kubu tamu, PSIM Yogyakarta, diakhiri dengan sontekan mematikan Savio Sheva. Gol kilat itu seolah menjadi siraman air es yang membekukan mental skuad Bhayangkara Presisi Lampung FC di sepanjang paruh pertama pertandingan.
Di bawah bayang-bayang ketertinggalan, tim asuhan Paul Munster tampak frustrasi. Trisula andalan mereka—Doumbia, Privat Mbarga, dan Moussa Sidibe—berkali-kali mencoba membongkar pertahanan lawan, namun selalu membentur tembok buntu. Sebaliknya, Ze Valente dan kolega dari kubu Laskar Mataram justru tampil elegan, mengalirkan bola dari kaki ke kaki dengan ketenangan seorang matador. Jika bukan karena rentetan penyelamatan akrobatik dari kiper Aqil Savik yang menolak memungut bola untuk kedua kalinya, gawang tuan rumah niscaya sudah hancur lebur sebelum jeda turun minum.
Namun, ruang ganti selalu menyimpan magisnya tersendiri. Entah mantra apa yang diembuskan Paul Munster saat half-time, armada Bhayangkara keluar dari lorong stadion dengan mata menyala. Dan di sinilah petaka bagi PSIM itu bermula—sebuah badai lima menit yang menjungkirbalikkan seluruh skenario.
Tepat di menit ke-50, Moussa Sidibe mengirimkan sebuah tendangan bebas terukur yang membelah udara, menemukan kepala Nehar Sadiki yang berdiri bebas untuk menyamakan kedudukan. Papan skor berubah 1-1, dan seisi stadion kembali bernapas. Momentum itu bak bahan bakar beroktan tinggi. Hanya berselang lima putaran jarum jam, kemelut kembali pecah di jantung pertahanan Cahya Supriadi. Kali ini giliran Sidibe sendiri yang mencatatkan namanya di papan skor, menuntaskan umpan ciamik Moises menjadi gol pembalik keadaan pada menit ke-55.
Drama sesungguhnya belum berakhir. Ketika waktu perlahan habis, PSIM nyaris menciptakan keajaiban saat tembakan Vidal menggetarkan jala Aqil Savik. Skuad Yogyakarta sempat berselebrasi merayakan gol penyeimbang. Namun, di era sepak bola modern, kebahagiaan tak pernah benar-benar utuh sebelum dikonfirmasi oleh lensa kamera. Ruang Video Assistant Referee (VAR) mengirimkan vonis kejamnya: Offside. Gol dianulir, dan harapan PSIM resmi terkubur bersama peluit panjang penanda akhir laga.
Kebangkitan dramatis ini sukses melontarkan posisi Bhayangkara ke peringkat empat klasemen sementara Super League dengan koleksi 47 poin, sementara PSIM harus rela meratapi nasib tertahan di urutan kesembilan. (bm)
Di bawah bayang-bayang ketertinggalan, tim asuhan Paul Munster tampak frustrasi. Trisula andalan mereka—Doumbia, Privat Mbarga, dan Moussa Sidibe—berkali-kali mencoba membongkar pertahanan lawan, namun selalu membentur tembok buntu. Sebaliknya, Ze Valente dan kolega dari kubu Laskar Mataram justru tampil elegan, mengalirkan bola dari kaki ke kaki dengan ketenangan seorang matador. Jika bukan karena rentetan penyelamatan akrobatik dari kiper Aqil Savik yang menolak memungut bola untuk kedua kalinya, gawang tuan rumah niscaya sudah hancur lebur sebelum jeda turun minum.
Namun, ruang ganti selalu menyimpan magisnya tersendiri. Entah mantra apa yang diembuskan Paul Munster saat half-time, armada Bhayangkara keluar dari lorong stadion dengan mata menyala. Dan di sinilah petaka bagi PSIM itu bermula—sebuah badai lima menit yang menjungkirbalikkan seluruh skenario.
Tepat di menit ke-50, Moussa Sidibe mengirimkan sebuah tendangan bebas terukur yang membelah udara, menemukan kepala Nehar Sadiki yang berdiri bebas untuk menyamakan kedudukan. Papan skor berubah 1-1, dan seisi stadion kembali bernapas. Momentum itu bak bahan bakar beroktan tinggi. Hanya berselang lima putaran jarum jam, kemelut kembali pecah di jantung pertahanan Cahya Supriadi. Kali ini giliran Sidibe sendiri yang mencatatkan namanya di papan skor, menuntaskan umpan ciamik Moises menjadi gol pembalik keadaan pada menit ke-55.
Drama sesungguhnya belum berakhir. Ketika waktu perlahan habis, PSIM nyaris menciptakan keajaiban saat tembakan Vidal menggetarkan jala Aqil Savik. Skuad Yogyakarta sempat berselebrasi merayakan gol penyeimbang. Namun, di era sepak bola modern, kebahagiaan tak pernah benar-benar utuh sebelum dikonfirmasi oleh lensa kamera. Ruang Video Assistant Referee (VAR) mengirimkan vonis kejamnya: Offside. Gol dianulir, dan harapan PSIM resmi terkubur bersama peluit panjang penanda akhir laga.
Kebangkitan dramatis ini sukses melontarkan posisi Bhayangkara ke peringkat empat klasemen sementara Super League dengan koleksi 47 poin, sementara PSIM harus rela meratapi nasib tertahan di urutan kesembilan. (bm)
Sekian penjelasan detail tentang petaka lima menit dan vonis kejam var kisah comeback epik bhayangkara di way halim yang saya tuangkan dalam olahraga Saya harap Anda merasa tercerahkan setelah membaca artikel ini selalu berpikir kreatif dalam bekerja dan perhatikan work-life balance. , Silakan bagikan kepada orang-orang terdekat. semoga Anda menikmati artikel lainnya. Sampai jumpa.
