Serangan Israel - Kobaran api terlihat membumbung setelah serangan militer Israel menghantam wilayah Desa Kfar Tibnit di Lebanon bagian selatan pada 2 Februari 2026. Foto: net/AFP Via Getty Images/BBC
JAKARTA, KABARLINK.com - Ketegangan kawasan kian meningkat setelah operasi militer Amerika Serikat dan Israel menyasar wilayah Iran. Situasi berkembang cepat, dengan Teheran disebut mencoba memperluas tekanan ke sektor vital energi di Arab Saudi dan Qatar.
Di front lain, kelompok bersenjata Hezbollah di Lebanon—yang selama ini memiliki kedekatan dengan Iran—meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel. Serangan itu menewaskan sembilan warga sipil. Balasan pun datang dari pihak Israel. Militer Israel menggempur sejumlah titik di Lebanon dan dilaporkan menyebabkan 31 korban jiwa, berdasarkan data sementara dari otoritas kesehatan setempat.
Militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) kemudian menginstruksikan warga di lebih dari 50 desa di Lebanon selatan untuk meninggalkan rumah mereka. Evakuasi besar-besaran terutama difokuskan pada kelompok lanjut usia dan warga rentan. Arus kendaraan memadati jalan-jalan utama, menciptakan kemacetan panjang. Sejumlah warga menggambarkan suasana pengungsian sebagai situasi yang memilukan dan penuh ketidakpastian.
Eskalasi semakin meluas pada Senin (02/03) ketika Iran diduga menargetkan infrastruktur energi di kawasan Teluk. Kementerian Energi Arab Saudi melaporkan insiden di kilang Ras Tanura yang dikelola oleh Saudi Aramco. Menurut pernyataan resmi yang disiarkan Saudi Press Agency, sistem pertahanan udara berhasil mencegat dua drone di sekitar fasilitas tersebut. Kebakaran kecil sempat terjadi akibat serpihan yang jatuh, namun segera dipadamkan tanpa korban jiwa.
Rekaman video yang telah diverifikasi media internasional memperlihatkan kobaran api dan asap tebal membubung dari area kilang sebelum akhirnya berhasil dikendalikan. Pemerintah Saudi mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan agresif yang tidak dapat dibenarkan.
Sementara itu di Qatar, perusahaan energi nasional QatarEnergy mengumumkan penghentian sementara produksi gas alam cair (LNG) setelah beberapa fasilitas strategisnya menjadi sasaran serangan. Area Ras Laffan dan Mesaieed—yang merupakan pusat penting pemrosesan dan ekspor gas—disebut terdampak.
Sebagai salah satu eksportir LNG terbesar dunia bersama Amerika Serikat, Australia, dan Rusia, gangguan produksi di Qatar berpotensi memicu dampak luas terhadap pasar energi global. Konflik yang awalnya terbatas kini menunjukkan gejala meluas ke berbagai sektor strategis, meningkatkan kekhawatiran akan krisis regional yang lebih dalam. (tim)
Di front lain, kelompok bersenjata Hezbollah di Lebanon—yang selama ini memiliki kedekatan dengan Iran—meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel. Serangan itu menewaskan sembilan warga sipil. Balasan pun datang dari pihak Israel. Militer Israel menggempur sejumlah titik di Lebanon dan dilaporkan menyebabkan 31 korban jiwa, berdasarkan data sementara dari otoritas kesehatan setempat.
Militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) kemudian menginstruksikan warga di lebih dari 50 desa di Lebanon selatan untuk meninggalkan rumah mereka. Evakuasi besar-besaran terutama difokuskan pada kelompok lanjut usia dan warga rentan. Arus kendaraan memadati jalan-jalan utama, menciptakan kemacetan panjang. Sejumlah warga menggambarkan suasana pengungsian sebagai situasi yang memilukan dan penuh ketidakpastian.
Eskalasi semakin meluas pada Senin (02/03) ketika Iran diduga menargetkan infrastruktur energi di kawasan Teluk. Kementerian Energi Arab Saudi melaporkan insiden di kilang Ras Tanura yang dikelola oleh Saudi Aramco. Menurut pernyataan resmi yang disiarkan Saudi Press Agency, sistem pertahanan udara berhasil mencegat dua drone di sekitar fasilitas tersebut. Kebakaran kecil sempat terjadi akibat serpihan yang jatuh, namun segera dipadamkan tanpa korban jiwa.
Rekaman video yang telah diverifikasi media internasional memperlihatkan kobaran api dan asap tebal membubung dari area kilang sebelum akhirnya berhasil dikendalikan. Pemerintah Saudi mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan agresif yang tidak dapat dibenarkan.
Sementara itu di Qatar, perusahaan energi nasional QatarEnergy mengumumkan penghentian sementara produksi gas alam cair (LNG) setelah beberapa fasilitas strategisnya menjadi sasaran serangan. Area Ras Laffan dan Mesaieed—yang merupakan pusat penting pemrosesan dan ekspor gas—disebut terdampak.
Sebagai salah satu eksportir LNG terbesar dunia bersama Amerika Serikat, Australia, dan Rusia, gangguan produksi di Qatar berpotensi memicu dampak luas terhadap pasar energi global. Konflik yang awalnya terbatas kini menunjukkan gejala meluas ke berbagai sektor strategis, meningkatkan kekhawatiran akan krisis regional yang lebih dalam. (tim)
Selesai sudah pembahasan konflik timur tengah meluas ke sektor energi yang saya tuangkan dalam terkini Mudah-mudahan tulisan ini membuka cakrawala berpikir Anda selalu berpikir positif dan jaga kondisi tubuh. Mari sebar informasi ini agar bermanfaat. lihat juga konten lainnya. Sampai berjumpa.
