Cuplikan adegan film Dilan ITB 1997. Dalam film ini, Ariel NOAH berperan sebagai Dilan. Foto: tangkapan layar Youtube
JAKARTA, KABARLINK.com - Suatu sore di Bandung, langit tampak sendu seperti menyimpan cerita lama yang belum selesai. Di antara riuh kampus dan hiruk pikuk kota yang mulai berubah, sosok Dilan berjalan pelan—tak lagi dengan jaket geng motor, melainkan membawa beban kenangan yang belum benar-benar usai.
Kisah itu kembali dihidupkan lewat film Dilan ITB 1997, lanjutan dari semesta cerita karya Pidi Baiq yang selama ini lekat dengan romansa masa remaja. Kali ini, cerita bergerak maju—membawa Dilan keluar dari bangku SMA menuju dunia kampus yang lebih rumit dan penuh pertanyaan tentang masa depan.
Di bawah arahan sutradara Fajar Bustomi, penonton diajak menyusuri Bandung tahun 1997. Kota itu tak hanya menjadi latar, tetapi juga saksi perubahan: dari kehidupan mahasiswa hingga suasana sosial yang perlahan memanas menjelang era reformasi.
Dilan kini hadir dalam versi yang berbeda. Ia bukan lagi remaja impulsif yang gemar membuat kejutan manis, melainkan mahasiswa seni rupa di Institut Teknologi Bandung yang mulai menata hidupnya. Meski lebih tenang dan reflektif, sisi puitis dan jenaka yang dulu membuatnya dicintai tetap terasa.
Namun, perjalanan ini tak lepas dari pusaran cinta. Dalam kesehariannya, Dilan menjalin hubungan dengan Ancika, sosok yang mampu memahami dirinya di fase yang lebih dewasa. Kehadiran Ancika memberi ruang nyaman, seolah menjadi tempat pulang yang stabil.
Segalanya berubah saat masa lalu kembali mengetuk. Pertemuan dengan Milea membuka kembali lembar-lembar kenangan yang belum benar-benar tertutup. Rasa yang dulu tumbuh di bangku sekolah kembali muncul—membawa dilema yang tak sederhana.
Dilan pun berdiri di persimpangan: mempertahankan hubungan yang menenangkan, atau kembali pada cinta lama yang penuh cerita.
Film ini menghadirkan deretan pemain yang menarik, termasuk Ariel NOAH sebagai Dilan, Niken Anjani sebagai Ancika, dan Raline Shah sebagai Milea. Kehadiran mereka memperkuat dinamika emosi yang menjadi inti cerita.
Tak hanya mengandalkan konflik asmara, film ini juga menyuguhkan nuansa Bandung era 90-an yang autentik—lengkap dengan atmosfer kampus dan perubahan zaman yang menjadi latar perjalanan karakter.
Lebih dari sekadar kisah cinta, film ini seperti mengajak penonton tumbuh bersama Dilan—melihatnya bukan hanya sebagai sosok romantis, tetapi sebagai individu yang sedang mencari arah hidup.
Jawaban atas pilihan Dilan akan terungkap saat film ini mulai tayang di bioskop pada 30 April 2026. (bm)
Kisah itu kembali dihidupkan lewat film Dilan ITB 1997, lanjutan dari semesta cerita karya Pidi Baiq yang selama ini lekat dengan romansa masa remaja. Kali ini, cerita bergerak maju—membawa Dilan keluar dari bangku SMA menuju dunia kampus yang lebih rumit dan penuh pertanyaan tentang masa depan.
Di bawah arahan sutradara Fajar Bustomi, penonton diajak menyusuri Bandung tahun 1997. Kota itu tak hanya menjadi latar, tetapi juga saksi perubahan: dari kehidupan mahasiswa hingga suasana sosial yang perlahan memanas menjelang era reformasi.
Dilan kini hadir dalam versi yang berbeda. Ia bukan lagi remaja impulsif yang gemar membuat kejutan manis, melainkan mahasiswa seni rupa di Institut Teknologi Bandung yang mulai menata hidupnya. Meski lebih tenang dan reflektif, sisi puitis dan jenaka yang dulu membuatnya dicintai tetap terasa.
Namun, perjalanan ini tak lepas dari pusaran cinta. Dalam kesehariannya, Dilan menjalin hubungan dengan Ancika, sosok yang mampu memahami dirinya di fase yang lebih dewasa. Kehadiran Ancika memberi ruang nyaman, seolah menjadi tempat pulang yang stabil.
Segalanya berubah saat masa lalu kembali mengetuk. Pertemuan dengan Milea membuka kembali lembar-lembar kenangan yang belum benar-benar tertutup. Rasa yang dulu tumbuh di bangku sekolah kembali muncul—membawa dilema yang tak sederhana.
Dilan pun berdiri di persimpangan: mempertahankan hubungan yang menenangkan, atau kembali pada cinta lama yang penuh cerita.
Film ini menghadirkan deretan pemain yang menarik, termasuk Ariel NOAH sebagai Dilan, Niken Anjani sebagai Ancika, dan Raline Shah sebagai Milea. Kehadiran mereka memperkuat dinamika emosi yang menjadi inti cerita.
Tak hanya mengandalkan konflik asmara, film ini juga menyuguhkan nuansa Bandung era 90-an yang autentik—lengkap dengan atmosfer kampus dan perubahan zaman yang menjadi latar perjalanan karakter.
Lebih dari sekadar kisah cinta, film ini seperti mengajak penonton tumbuh bersama Dilan—melihatnya bukan hanya sebagai sosok romantis, tetapi sebagai individu yang sedang mencari arah hidup.
Jawaban atas pilihan Dilan akan terungkap saat film ini mulai tayang di bioskop pada 30 April 2026. (bm)
Itulah pembahasan tuntas mengenai di antara ancika dan milea saat dilan dewasa harus memilih cinta atau kenangan dalam terkini yang saya berikan Terima kasih telah mempercayakan kami sebagai sumber informasi selalu berpikir positif dan jaga kondisi tubuh. Bagikan kepada yang perlu tahu tentang ini. Sampai bertemu lagi
