Makanan Khas - Walang goreng merupakan kuliner khas Kabupaten Gunungkidul. Foto: net/kelanawisata.id
GUNUNGKIDUL, KABARLINK.com - Kalau Anda sedang berwisata di Yogyakarta jangan lupa mampir di Kabupaten Gunungkidul. Berburu kuliner di kabupaten yang dikenal keindahan alamnya itu akan melengkapi perjalanan yang mengesankan. Satu di antara kuliner eksotisnya adalah belalang goreng atau sering diucapkan "walang goreng".
Walang goreng merupakan sajian unik yang identik dengan wilayah Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hidangan ini dikenal kaya kandungan protein sehingga kerap disebut sebagai salah satu sumber pangan bernilai gizi tinggi. Kini, belalang goreng tak sekadar konsumsi rumahan, tetapi telah menjelma menjadi ikon kuliner daerah tersebut.
Merujuk sejumlah catatan sejarah, tradisi mengolah belalang menjadi makanan bermula dari peristiwa serangan hama pada akhir abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1898. Saat populasi belalang kayu (Valanga nigricornis) melimpah dan merusak tanaman warga, masyarakat setempat berinisiatif memanfaatkannya sebagai bahan pangan. Dari situlah kebiasaan mengonsumsi belalang berkembang dan diwariskan lintas generasi.
Kajian akademik juga mencatat bahwa praktik makan belalang di Gunungkidul bukan tren baru. Penelitian yang dilakukan oleh kalangan akademisi Universitas Gadjah Mada menunjukkan konsumsi serangga tersebut telah berlangsung lama dan menjadi bagian dari budaya pangan lokal. Bagi masyarakat setempat, walang goreng adalah bentuk adaptasi sekaligus kearifan tradisional dalam menghadapi kondisi alam.
Saat ini, potensi belalang goreng tak hanya dipandang dari sisi budaya dan gizi, tetapi juga peluang ekonomi. Produk ini dinilai mampu mendukung pengembangan wisata kuliner atau gastrowisata di Gunungkidul. Selain menjadi daya tarik bagi pelancong yang ingin mencicipi makanan ekstrem bernutrisi tinggi, walang goreng juga banyak diburu sebagai buah tangan khas daerah, sehingga membuka ruang usaha bagi warga setempat. (*)
Merujuk sejumlah catatan sejarah, tradisi mengolah belalang menjadi makanan bermula dari peristiwa serangan hama pada akhir abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1898. Saat populasi belalang kayu (Valanga nigricornis) melimpah dan merusak tanaman warga, masyarakat setempat berinisiatif memanfaatkannya sebagai bahan pangan. Dari situlah kebiasaan mengonsumsi belalang berkembang dan diwariskan lintas generasi.
Kajian akademik juga mencatat bahwa praktik makan belalang di Gunungkidul bukan tren baru. Penelitian yang dilakukan oleh kalangan akademisi Universitas Gadjah Mada menunjukkan konsumsi serangga tersebut telah berlangsung lama dan menjadi bagian dari budaya pangan lokal. Bagi masyarakat setempat, walang goreng adalah bentuk adaptasi sekaligus kearifan tradisional dalam menghadapi kondisi alam.
Saat ini, potensi belalang goreng tak hanya dipandang dari sisi budaya dan gizi, tetapi juga peluang ekonomi. Produk ini dinilai mampu mendukung pengembangan wisata kuliner atau gastrowisata di Gunungkidul. Selain menjadi daya tarik bagi pelancong yang ingin mencicipi makanan ekstrem bernutrisi tinggi, walang goreng juga banyak diburu sebagai buah tangan khas daerah, sehingga membuka ruang usaha bagi warga setempat. (*)
Begitulah ringkasan menyeluruh tentang walang goreng jejak tradisi di balik cita rasa liar dalam tamasya, tekini yang saya berikan Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat bagi banyak orang tetap optimis menghadapi rintangan dan jaga kesehatan lingkungan. Mari berbagi kebaikan dengan membagikan ini. jangan ragu untuk membaca artikel lain di bawah ini.
