Hoaks narasi tentang kenaikan harga BBM subsidi hingga Rp16 ribu per liter menyebar cepat di media sosial. Ilustrasi: AI
JAKARTA, KABARLINK.com - Guliran video di TikTok mendadak ramai dibicarakan. Dalam beberapa detik, narasi tentang kenaikan harga BBM subsidi hingga Rp16 ribu per liter menyebar cepat, memicu kekhawatiran warganet.
Namun di balik viralnya kabar tersebut, fakta yang muncul justru berbeda.
Isu itu menyeret nama Purbaya Yudhi Sadewa, yang disebut-sebut akan menaikkan harga BBM subsidi. Padahal, pernyataan resminya tidak pernah mengarah ke keputusan tersebut. Ia justru menjelaskan bahwa pemerintah berupaya menahan tekanan lonjakan harga minyak dunia dengan memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dalam penjelasannya, kenaikan harga baru akan menjadi opsi terakhir—itu pun jika kemampuan APBN sudah tidak lagi cukup untuk menahan beban subsidi energi. Perhitungan internal bahkan menunjukkan potensi defisit bisa melebar hingga 3,7 persen dari PDB jika harga minyak dunia bertahan tinggi tanpa intervensi.
Di saat yang sama, beredar pula tangkapan layar lain yang mengklaim harga BBM nonsubsidi akan melonjak tajam mulai April 2026. Dalam dokumen yang disebut-sebut “rahasia”, harga Pertamina seperti Pertamax digambarkan naik signifikan hingga belasan ribu rupiah per liter.
Kabar ini ikut memperkeruh situasi, apalagi dikaitkan dengan memanasnya konflik global yang disebut berdampak pada pasokan energi dunia.
Namun pihak Pertamina segera angkat bicara. Melalui Vice President Corporate Communication, Muhammad Baron, ditegaskan bahwa informasi tersebut tidak berasal dari perusahaan dan tidak bisa dijadikan rujukan.
“Belum ada pengumuman resmi terkait penyesuaian harga BBM per 1 April 2026,” ujarnya.
Pernyataan senada juga datang dari Kementerian ESDM. Direktur Jenderal Migas, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa belum ada kepastian terkait harga BBM nonsubsidi. Sementara untuk BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar, ia memastikan tidak ada perubahan harga.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kabar yang belum terverifikasi kerap dengan mudah memicu kepanikan. Kasus ini menjadi pengingat bahwa tidak semua yang viral adalah fakta.
Di balik layar ponsel, kecepatan informasi memang tak terbendung. Namun, ketelitian tetap menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam kabar yang menyesatkan. (bm)
Namun di balik viralnya kabar tersebut, fakta yang muncul justru berbeda.
Isu itu menyeret nama Purbaya Yudhi Sadewa, yang disebut-sebut akan menaikkan harga BBM subsidi. Padahal, pernyataan resminya tidak pernah mengarah ke keputusan tersebut. Ia justru menjelaskan bahwa pemerintah berupaya menahan tekanan lonjakan harga minyak dunia dengan memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dalam penjelasannya, kenaikan harga baru akan menjadi opsi terakhir—itu pun jika kemampuan APBN sudah tidak lagi cukup untuk menahan beban subsidi energi. Perhitungan internal bahkan menunjukkan potensi defisit bisa melebar hingga 3,7 persen dari PDB jika harga minyak dunia bertahan tinggi tanpa intervensi.
Di saat yang sama, beredar pula tangkapan layar lain yang mengklaim harga BBM nonsubsidi akan melonjak tajam mulai April 2026. Dalam dokumen yang disebut-sebut “rahasia”, harga Pertamina seperti Pertamax digambarkan naik signifikan hingga belasan ribu rupiah per liter.
Kabar ini ikut memperkeruh situasi, apalagi dikaitkan dengan memanasnya konflik global yang disebut berdampak pada pasokan energi dunia.
Namun pihak Pertamina segera angkat bicara. Melalui Vice President Corporate Communication, Muhammad Baron, ditegaskan bahwa informasi tersebut tidak berasal dari perusahaan dan tidak bisa dijadikan rujukan.
“Belum ada pengumuman resmi terkait penyesuaian harga BBM per 1 April 2026,” ujarnya.
Pernyataan senada juga datang dari Kementerian ESDM. Direktur Jenderal Migas, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa belum ada kepastian terkait harga BBM nonsubsidi. Sementara untuk BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar, ia memastikan tidak ada perubahan harga.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kabar yang belum terverifikasi kerap dengan mudah memicu kepanikan. Kasus ini menjadi pengingat bahwa tidak semua yang viral adalah fakta.
Di balik layar ponsel, kecepatan informasi memang tak terbendung. Namun, ketelitian tetap menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam kabar yang menyesatkan. (bm)
Demikianlah kabar bbm melejit viral pemerintah angkat bicara jangan termakan hoaks telah saya jelaskan secara rinci dalam terkini Semoga informasi ini dapat Anda bagikan kepada orang lain kembangkan jaringan positif dan utamakan kesehatan komunitas. Bagikan postingan ini agar lebih banyak yang tahu. Terima kasih atas perhatiannya
