Penulis: Nashihin N, owner Diksi Media Institue
DALAM kitab Taisirul Aliy al-Qadir Li ikhtishari Tafsiribni Katsir, karya Muhammad Nasib ar-Rifai (jilid 2), Imam Ibnu Katsir mendefinisikan kata shiyam (puasa) dengan kalimat al-Imsaku anith tha'am wasy syarab wal jima' biniyatin khalishatin lillahi azza wajalla…"
Artinya, "menahan diri dari makan, minum, dan jimak (hubungan intim suami istri) dengan niat murni karena Allah azza wajalla. " Definisi ini ia tulis dalam menjelaskan makna dari surat al-Baqarah ayat 183.
Definisi tersebut menjelaskan tentang pengertian puasa pada batas perbuatan menahan makan, minum, dan jimak.
Namun, pada penjelasan berikutnya, Ibnu Katsir lebih lanjut menguraikan kembali dengan kalimat, "…puasa dapat menyucikan/membersihkan jiwa dan menghilangkan kotoran yang membahayakannya dan (menghilangkan) akhlak buruk." Pada penjelasan ini, terlihat jelas adanya pengaruh positif dari puasa.
Kemudian, jika kita membaca ayat-ayat lain dan hadits-hadits yang berkaitan dengan puasa maka pada ibadah puasa Ramadan terdapat nilai lain yang lebih luas.
Nilai lain inilah yang dapat disebut dimensi dari suatu ibadah, dalam hal ini dimensi ibadah puasa Ramadan. Adapun dimensi-dimensi yang dimaksud meliputi dimensi spiritual, sosial, ekonomi, kesehatan, budaya. dan lain-lain. Lebih lanjut uraiannya sebagai berikut.
Pertama, dimensi spiritual. Sebagaimana terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 185, Allah berfirman, "…syahru ramadhanalladzi unzila fiihil Qur'anu hudhal linnasi..." Pada ayat ini, Allah memberi tahu kepada kita bahwa Al-Qur'an turun di bulan Ramadan.
Pada bulan ini umat Islam dianjurkan untuk banyak membaca Al-Qur'an atau mengulang-ulanginya melalui hafalan yang dimilikinya, sebagaimana yang pernah dilakukan Rasulullah di hadapan Jibril.
Demikian pula hal tersebut dilakukan para sahabat Nabi saw., ulama, dan kaum muslimin secara turun temurun. Dalam praktiknya, membaca dan mengulang bacaan Al-Qur'an dapat menjadi suatu kenikmatan batin bagi pembacanya.
Imam al-Maraghi pernah berkata, "Ada dua kenikmatan yang ada di bulan Ramadan, yaitu nikmat membaca al-Qur'an, nikmat puasa, nikmat ilmu, _nur_ (cahaya), dan hidayah yang diperoleh dari membaca al-Qur'an, serta nikmat sarana untuk menerima anugerah yang diperoleh dari (bulan) puasa."
Demikian dimensi spiritual puasa Ramadan melalui membaca al-Qur'an. Masih banyak aktivitas-aktivitas spiritual lain yang dianjurkan di bulan Ramadan, seperti tarawih, tadarus, zikir, dan lain-lain.
Kedua, dimensi sosial. Orang yang berpuasa, dengan menahan lapar dan haus, akan menumbuhkan rasa empati terhadap penderitaan kaum fakir dan miskin. Melalui rasa empati ini, akan muncul sikap peduli dan berbagi. Inilah di antara hikmah berpuasa. Jika rasa peduli tidak melekat pada orang yang berpuasa, berarti hikmah puasa belum melekat pada dirinya.
Sejatinya, sikap peduli bukan hanya dalam urusan perut, tetapi juga dalam kehidupan sosial yang lain, seperti rasa kasih sayang, kebersamaan, dan kemauan membaur dengan mereka untuk ikut merasakan pendiritaan yang dialami dan dirasakan mereka.
Berkaitan dengan ini, terdapat hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Kholid al-Juhani, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Barangsiapa yang memberi (makanan untuk) orang yang puasa maka baginya pahala yang semisalnya, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun." (HR Tirmidzi 807, Ibnu Majah 1746, dan dishashihkan oleh Ibu Hibban dan oleh al-Bani di dalam Shahihul Jami 6415).
Ketiga, dimensi kesehatan. Telah menjadi pengetahuan umum bahwa puasa memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Dalam hal ini, puasa tidak hanya dilakukan dalam konteks pengamalan ajaran agama, tetapi juga dalam dunia medis.
Dalam ilmu kesehatan, puasa memberikan kesempatan kepada organ percernaan (lambung, hari, pankreas, dan usus) untuk beristirahat supaya ada regenerasi sel dan keseimbangan asam lambung.
Hal yang biasa dilakukan dokter, ia akan menganjurkan kepada pasien untuk berpuasa beberapa jam sebelum operasi atau saat akan cek darah. Sebelum operasi biasanya pasien dianjurkan untuk puasa 6 sampai 8 jam, sedang sebelum cek darah dianjurkan untuk puasa antara 8 sampai 12 jam.
Berkaitan dengan manfaat puasa bagi kesehatan, terdapat hadits lemah yang berisi pesan, shumuu tashihhuu (bepuasalah niscaya kamu akan sehat). Walaupun status hadits tersebut lemah, namun secara nyata puasa memiliki manfaat besar bagi kesehatan.
Keempat, dimensi budaya. Sebagaimana yang telah diketahui, ketentuan dalam pengamalan ibadah puasa terdapat aturan dan ketentuan waktunya, seperti waktu sahur, waktu mulai menahan makan, minum, dan berhubungan intim. Semua itu telah ditetapkan waktunya.
Demikian pula waktu untuk berbuka, terdapat ketetapan waktunya, yaitu Magrib. Waktu-waktu ini mengajarkan kita untuk disiplin dengan tidak boleh mendahului waktu yang telah ditetapkan, sekalipun hanya satu menit.
Ketentuan tersebut merupakan ajaran Islam tentang disiplin, taat aturan, dan komitmen pada waktu. Ini adalah budaya yang sangat bagus jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kaum muslimin, betapa indahnya Islam.
Demikian, di antara dimensi ibabah puasa Ramadan dari sekian dimensi yang ada. Penulis hanya menyebutkan beberapa dimensi saja sebagai contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari kaum muslimin. Semoga Allah mudahkan kita dalam menjalankan ibadah puasa tahun ini. (*)
Demikianlah opini dimensi ibadah ramadan telah saya jelaskan secara rinci dalam terkini Saya harap Anda menemukan sesuatu yang berguna di sini Jaga semangat dan kesehatan selalu. silakan share ini. Sampai bertemu lagi
