Memasak mie godok. Kuliner khas Gunungkidul milik Pak Sugi di kawasan Terban Yogyakarta ini tak pernah sepi dari pesanan pelanggan. Foto: kelanawisata.id
YOGYAKARTA, KABARLINK.com - Asap tipis mengepul pelan dari tungku tanah liat di sudut warung sederhana itu. Di atasnya, wajan kecil terus bergerak mengikuti irama tangan yang sudah puluhan tahun terlatih. Malam di Yogyakarta terasa lebih hangat ketika semangkuk Bakmi Jawa mulai diracik perlahan, satu porsi demi satu porsi.
Hidangan yang juga dikenal sebagai mie godog ini bukan sekadar makanan. Ia adalah cerita panjang tentang pertemuan budaya—perpaduan rasa antara tradisi Tionghoa dan sentuhan khas Jawa. Dari sebuah desa di wilayah Gunungkidul, racikan mie berempah ini perlahan menyebar, hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian warga Yogyakarta.
Di tengah banyaknya warung bakmi, nama Pak Sugi tetap bertahan sebagai salah satu yang dicari. Pria berusia 67 tahun itu merintis usahanya dari pengalaman dan ketekunan, membawa resep yang ia kenal sejak lama. Kini, warungnya di kawasan Terban tak pernah benar-benar sepi.
Dengan senyum sederhana, ia bercerita tentang perjalanan hidupnya. Dari berjualan bakmi, ia tak hanya mencukupi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berhasil mewujudkan impian untuk beribadah umrah. Baginya, setiap mangkuk yang disajikan adalah bagian dari perjalanan itu.
Yang membuat racikan di warung ini berbeda bukan hanya soal rasa, tetapi juga prosesnya. Pak Sugi memadukan dua jenis mie—kuning dan putih—dengan bumbu rempah yang dimasak perlahan. Semua dikerjakan di atas anglo dengan bara arang, menghasilkan aroma khas yang sulit ditemukan di dapur modern.
Setiap pesanan tidak dibuat massal, melainkan dimasak satu per satu. Dari situlah muncul cita rasa yang hangat dan dalam—kuah gurih yang meresap, tekstur mie yang lembut, serta sentuhan tradisional yang tetap terjaga.
Bagi pelanggan setia, datang ke warung ini bukan sekadar makan. Ada rasa rindu yang selalu ingin diulang. Seorang pengunjung bahkan mengaku kerap kembali dan mengajak teman-temannya untuk ikut merasakan.
Di kota yang terus bergerak cepat, semangkuk bakmi godog dari tangan Pak Sugi seperti mengajak siapa saja untuk sejenak berhenti—menikmati rasa, cerita, dan kehangatan yang tak lekang oleh waktu. (bm)
Terima kasih atas perhatian Anda terhadap seporsi rindu dari wajan tua cerita bakmi jawa pak sugi dalam tamasya ini Semoga artikel ini menjadi inspirasi bagi Anda kembangkan potensi diri dan jaga kesehatan mental. Ayo bagikan kepada teman-teman yang ingin tahu. Sampai jumpa lagi
