Tak Sekadar Donasi, Alumni SMAN 5 Banda Aceh ’87 Masak Sendiri untuk Korban Banjir Pidie Jaya
Salurkan Bantuan - Alumni SMA Negeri 5 Lampineung Banda Aceh Angkatan 1987 menyalurkan 1.000 paket makanan khas Aceh kepada warga terdampak bencana di Kecamatan Meurah Dua Pidie Jaya, Minggu (18/1/2026). Foto: Kabarlink.com
BANDA ACEH, KABARLINK.com – Alumni SMA Negeri 5 Lampineung Banda Aceh Angkatan 1987, menyalurkan 1000 paket makanan siap saji kepada warga terdampak bencana hidrometeorologi di beberapa desa dalam Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Minggu (18/1/2026).
Bantuan yang diberikan berupa makanan siap saji yang dimasak sendiri oleh alumni untuk memberikan cita rasa tersendiri bagi warga terdampak. Hal ini sangat relevan, karena dapat langsung dikonsumsi dan oleh warga yang sedang membersihkan sisa lumpur yang menutupi pemukiman, persawahan, ladang dan tambak.
Ketua pelaksana kegiatan Iskandar, Alumni SMA Negeri 5 Lampineung (sekarang SMA Negeri 4 DKI) Angkatan 1987 Banda Aceh mengatakan kepada kabarlink.com bahwa aksi tersebut bukanlah sebatas seremonial belaka, melainkan sebuah bentuk kepedulian sosial dan solidaritas lintas daerah.
“Kami berupaya hadir untuk ikut merasakan apa yang warga disini alami sejak musibah itu terjadi. Makanan siap saji ini sengaja kami masak sendiri di rumah untuk memberikan cita rasa asli Aceh”, ungkap Iskandar.
Lebih lanjut Iskandar mengatakan, “Kami yakin dan percaya bahwa saudara kami disini, sejak musibah terjadi dan setelahnya, warga disini sudah lama merindukan makanan masakan sendiri. Untuk itu kami coba menyajikannya, namun kami menyadari bahwa itu tidak sempurna, maka dari itu kami mohon maaf dan mohon dimaklumi”, imbuhnya.
Ia juga menambahkan, bawa alumni bukan hanya datang dan meninggalkan kardus dan goni lalu pergi. “Kami datang membawa hasil racikan dan masakan sendiri layaknya memasak untuk keluarga sendiri. Di saat kondisi darurat seperti ini, sebungkus nasi hangat dengan lauk yang layak bukan cuma soal kenyang, tapi soal saudara kita yang sedang diuji. Kami ingin menyampaikan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi musibah ini. Masih ada sauaranya yang masih bisa masak dan makan Bersama mereka," tutupnya dengan nada bergetar menahan sedih.
Cut Ira, Salah satu anggota alumni yang hadir dalam rombongan tersebut, terlihat sibuk membagikan paket makanan kepada warga. Ia tak mampu menyembunyikan harunya, sesekali Ia terlihat menyeka peluh di keningnya, namun bibirnya tetap tersenyum ramah menyapa.
Dalam perjalan lanjutan, Ira mengatakan bahwa ia dapat merasakan apa yang dirasakan warga. Setengah berbisik ia mengatakan bahwa apa yang dialami oleh warga, itu sesuatu yang sangat berat.
“Berlinang air mata saya menyaksikan apa yang terjadi dan dampaknya sangat di luar nalar. Di sepanjang perjalanan, saya melihat banyak sekali bangunan terutama rumah warga yang sudah tidak layak huni. Sisa lumpur bahkan ada yang hampir mengubur rumah warga. Itu butuh waktu yang sangat lama, jika tidak segera ditangani dengan bantuan alat berat”, ungkap nya sambil menyeka bulir bening disudut matanya.
Kak Mah, salah satu warga terdampak mengatakan bahwa “Saat itu banjir datang tiba-tiba, kami semua panik sehingga tidak sempat menyelamatkan harta benda. Kami pasrah, itu semua cobaan. Semua milik Allah akan Kembali kepada Allah, kami sudah Ikhlas dan kami bersyukur masih diberi kesempatan hidup. Apa pun bentuknya bantuan itu, Alhamdulillah dan kami sangat berterimakasih. Terutama masakan aceh yang sangat kami rindukan. Kami sangat senang, karena kami belum bisa masak sebagaiman mestinya” ungkapnya sambil tersenyum malu.
Salah satu warga lainnya, Pak Ahmat mengakui bahwa banjir memang sudah usai, namun yang menjadi momok bagi warga adalah lumpur kering dan menggunung. Ketika mata hari Terik dan tiupan angin sehingga debu menyebar kemana-mana. Ini sangat menggangu dan dapat menyebabkan penyakit saluran pernafasan dan batuk.
"Kami butuh lebih dari sekadar simpati. Kami butuh alat berat Pak. Kami sudah Lelah, selama ini kami mengunakan skrop dan cangkul untuk membersihkan rumah dan pekarangan. Jangan biarkan kami dalam penderitaan ini, Kasihan anak-anak kami, mereka ada yang kena penyakit kulit dan ISPA setelah banjir ini”, pintanya.
Sebagaimana diketahui, Pidie Jaya merupakan salah satu wilayah yang sangat terdampak musibah hidrometorologi yang terjadi pada akhir November tahun lalu. Wilayah yang paling parah terdampak adalah Kecamatan Meureudu, Meurah Dua, Ulim, dan Pidie Jaya.
Musibah ini telah menyebabkan kerusakan parah, seperti jalan dan jembatan rusak, rumah warga hanyut dan tertimbun lumpur. Warga juga masih ada yang mengungsi dan belum tau sampai kapan harus tinggal ditenda-tenda darurat. Dan ini memerlukan penangan dan kebijakan yang komprehensif dan terkoordinir dalam pelaksanaannya, sehingga dampak musibah ini dapat segera teratasi. (Ubed)
Itulah informasi seputar tak sekadar donasi alumni sman 5 banda aceh 87 masak sendiri untuk korban banjir pidie jaya yang dapat saya bagikan dalam terkini Semoga artikel ini menjadi langkah awal untuk belajar lebih lanjut tetap fokus pada impian dan jaga kesehatan jantung. Bagikan kepada yang perlu tahu tentang ini. terima kasih atas perhatian Anda.
✦ Tanya AI
Saat ini AI kami sedang memiliki traffic tinggi silahkan coba beberapa saat lagi.