Internasional

Selat Hormuz yang Tegang, Jalur yang Mulai “Terbuka”: Thailand Dapat Lampu Hijau dari Iran

Son Sulistiono

Jurnalis

Son Sulistiono

Selat Hormuz yang Tegang, Jalur yang Mulai “Terbuka”: Thailand Dapat Lampu Hijau dari Iran




JAKARTA, KABARLINK.com - Deru kapal tanker perlahan kembali terdengar di perairan Selat Hormuz. Di tengah bayang-bayang konflik dan ketegangan militer, secercah kepastian mulai muncul—setidaknya bagi sebagian negara.


Terbaru, Thailand berhasil mengamankan kesepakatan dengan Iran agar kapal tanker minyaknya dapat melintas dengan aman di jalur energi paling vital di dunia itu.


Kesepakatan ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Anutin Charnvirakul, yang menyebut langkah tersebut sebagai angin segar di tengah kekhawatiran krisis pasokan energi.


“Kini ada keyakinan lebih bahwa gangguan besar seperti awal bulan tidak akan terulang,” ujarnya dalam konferensi pers.


Jalur Vital yang Sempat “Lumpuh”


Sejak konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memanas, Selat Hormuz praktis berubah menjadi titik rawan.


Aktivitas pelayaran sempat merosot tajam. Data menunjukkan pengiriman komoditas melalui jalur ini anjlok drastis sejak awal Maret, memicu efek domino: harga minyak melonjak, biaya logistik membengkak, dan antrean BBM terjadi di beberapa negara Asia.


Asia Jadi Pihak Paling Terdampak


Lebih dari 80 persen aliran minyak mentah dan gas yang melintasi Selat Hormuz memang mengarah ke Asia. Tak heran, negara-negara di kawasan ini paling cepat merasakan dampaknya.


Di Thailand, misalnya, tekanan mulai terasa di dalam negeri—mulai dari pasokan bahan bakar hingga antrean di SPBU.


Kesepakatan dengan Iran pun menjadi langkah strategis untuk meredam situasi.


“Izin Khusus” untuk Negara Tertentu


Thailand bukan satu-satunya. Sejumlah negara seperti China, Rusia, India, hingga Malaysia juga telah mendapatkan akses serupa.


Pemerintah Malaysia bahkan mengonfirmasi bahwa kapal tanker mereka diizinkan melintas dan kembali melanjutkan perjalanan.


Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa jalur tersebut tidak sepenuhnya ditutup—namun hanya terbuka bagi pihak yang dianggap “bersahabat”.


“Kami memberikan pengawalan bagi negara-negara tertentu yang berkoordinasi dengan kami,” jelasnya.


Tidak untuk Semua


Meski demikian, tidak semua kapal mendapat perlakuan sama. Iran secara tegas menutup akses bagi kapal yang terafiliasi dengan negara yang dianggap lawan dalam konflik.


Artinya, Selat Hormuz kini bukan sekadar jalur pelayaran—melainkan medan geopolitik yang sarat kepentingan.


Ketegangan Masih Mengintai


Situasi di lapangan masih jauh dari kata aman. Sepanjang Maret, puluhan kapal dilaporkan mengalami insiden di kawasan Teluk dan sekitarnya. Bahkan, sebuah kapal Thailand sempat diserang, menyebabkan awaknya hilang.


Dengan kondisi seperti ini, setiap kapal yang melintas bukan hanya membawa minyak—tetapi juga risiko.


Antara Harapan dan Ancaman


Kesepakatan Thailand dengan Iran memberi harapan baru, namun sekaligus mengingatkan bahwa stabilitas energi global kini bergantung pada situasi yang sangat rapuh.


Di tengah konflik yang belum mereda, Selat Hormuz berubah menjadi simbol:

jalur kehidupan yang sekaligus bisa menjadi titik krisis kapan saja.  (bm)

Itulah informasi komprehensif seputar selat hormuz yang tegang jalur yang mulai terbuka thailand dapat lampu hijau dari iran yang saya sajikan dalam internasional Siapa tau ini jadi manfaat untuk kalian tetap fokus pada tujuan hidup dan jaga kesehatan spiritual. Mari berbagi kebaikan dengan membagikan ini. cek artikel menarik lainnya di bawah ini. Terima kasih.

Bagikan: